Hallo 2018!

Assalamualaikum,

Hallo again, apakabar dunia? Apakabar semuanya? Beberapa bulan kemarin benar-benar waktu hibernasi yang cukup panjang bagi saya. 3 bulan lebih tanpa menuliskan apa-apa disini. Apakah saya kehilangan asa dan cita-cita? Well tidak juga sih, mungkin sempat meredup sedikit. Tapi sekarang saya mencoba bangkit pelan-pelan demi keluarga dan demi diri saya sendiri.

download

Singkat kata, kebangkitan saya ditandai dengan rejeki luar biasa dari Allah. Ya, Alhamdulillah di awal 2018 ini (tepatnya tanggal 8 Januari 2018 besok), saya mendapatkan scholarship untuk mengikuti short-course di bidang ‘natural resources governance’ yang diadakan oleh Asia-Pacific Hub. Not bad-lah untuk seseorang yang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Saya sangat bersyukur Allah masih berikan saya kesempatan untuk belajar dan bertemu rekan-rekan se-Asia Pasifik. Dan saya yakin short-course ini ke depannya ini akan menunjang karir saya sebagai peneliti, baik itu untuk melakukan penelitian ataupun menulis tentang isu natural resources governance, tepatnya industri ekstraktif. Semoga ke depannya akan lebih banyak lagi conference, workshop, training, short-course dan fellowship yang ‘nyangkut’ ke saya, Aamiin…

Kalau bicara soal lanjut sekolah ke jenjang S3, jujur banyak sekali pertimbangan saya. I just could not leave my family in Indonesia. Saya gak tega liat Papa dan Lintang cuma berdua. Saya gak mau egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Jadi yah, let see what will happen about my next biggest dream, yaitu Ph.D. Apa tahun ini.. atau kepending lagi sampai 2019. But above all, saya yakin Allah sudah punya ketentuan sendiri akan itu. Semua niat baik tidak akan pernah disia-siakan oleh Sang Maha Pemilik Keputusan Hidup, bukan? πŸ™‚
Yang terpenting sekarang, saya harus kerja yang baik (semakin baik dari tahun-tahun sebelumnya), kemudian menulis yang rajin, terus menambah saldo tabungan biar di tahun ini jadi beli hunian mungil di Jabodetabek hehe (tolong di-Aamiin-kan saudara-saudara!)

Selanjutnya, biar Allah yang berikan kejutan-kejutan menyenangkan di 2018 ini. Selamat tahun baru semuanya πŸ™‚

-LP-

Advertisements

September (Yang Tidak) Ceria

Assalamualaikum teman2, lama tidak berjumpa di blog ini. Lama saya tidak menulis di blog saya sendiri, sehingga mungkin dia sudah β€˜berdebu’ dan sedih ditinggal pemiliknya. Melihat judul postingan kali ini, pasti teman2 mengkaitkan dengan istilah β€œSeptember Ceria”. Ya, saya yakin tentu semua paham dan fasih dengan istilah β€œSeptember Ceria”. Memang benar, itu diambil dari penggalan lagu lama di era 90an. Lagu bernada melankolis manis itu dinyanyikan oleh penyanyi lawas Vina Panduwinata (oh well, anak sekarang pasti jarang yang tahu siapa itu Vina Panduwinata).

Balik lagi ke penggalan kata di lagu itu, ternyata…, September ini tidak ceria bagi saya. Sangat tidak ceria dan tidak menggembirakan. Tak usah ditanya mengapa karena akan saya jelaskan nanti semua sesak di dada saya yang membuat mata saya bengkak selama seminggu lebih. Bengkak karena apa? Menangis tentu saja. Hm, bicara soal menangis, sudah lama sekali saya tidak menangis. Mungkin dihitung2, sudah 2 tahun lebih saya tidak menangis tersedu bahkan menangis histeris. Kenapa? Apa saya sok kuat? Entahlah, mungkin Jakarta membuat saya lebih tegar dan jarang menangis. Bagaimana mungkin saya menangis, sementara setiap harinya adalah berjuang? Setiap harinya adalah melawan rasa rindu akan rumah? Hufh, ya begitulah.. in these 2 years, I rarely cried.

Tapi, di suatu siang, tepatnya tanggal 10 September, hari Minggu. Saya akhirnya menangis. Histeris. Tak terbantahkan saya menangis. Menangis karena hati saya tercabik pedih. Luka yang sebenar2 luka. Saya kehilangan seorang Ibu.
Ya, Mama saya meninggal dunia.
Sosok yang paling saya cintai di muka bumi ini.
Sosok yang paling mengerti saya, yang tahu bagaimana perjuangan hidup saya.

Saya mendengar kabar itu melalui telpon dari Papa saya, tanpa saya sempat mengucapkan selamat tinggal pada Mama.
Tanpa saya sempat bilang betapa saya sangat mencintai dan menyayangi Mama melebihi apapun di dunia ini.
Tanpa saya sempat membahagiakan dan mewujudkan impiannya.
Mama pergi dalam diam. Begitu saja.

Dunia saya rasanya hancur. Kebahagiaan saya bagai direnggut dengan paksa. Semua impian yang pernah saya dan Mama bicarakan lenyap sudah. Berganti air mata.Β IMG-20170308-WA0002

Saya meraung. Saya meraung kesepian, penuh penyesalan. Saya histeris. Saya bagai orang gila. Saya bagai ditancap belati pas di ulu hati, sehingga untuk bernapas pun saya perih. Saya kehilangan Mama. Dan ini adalah kehilangan terbesar saya. Saya kehilangan cahaya hidup saya. Tak hanya itu, selang beberapa menit seingat saya, mulut saya menceracau tidak jelas karena berbagai macam hal menghantui pikiran saya…
β€œAdik saya bagaimana, karena dia masih sangat muda. Baru 15 tahun. Baru sebentar mengecap kasih sayang seorang Ibu…”
Kemudian saya berpikir lagi, β€œPapa saya bagaimana?” selama ini Mama lah yang paling mengerti urusan keluarga, mulai dari hal2 domestik (hal sederhana seperti memasak dan membuatkan kopi Papa), sampai hal2 menyangkut dokumen2, hal2 perbankan, pembayaran rekening listrik, telpon, dll. Ya, semuanya Mama yang mengurus. Dengan kata lain, Papa-lah kepala keluarga, tapi Mama yang me-manage semua dengan baik.

Lalu saya, bagaimana dengan saya nanti? Siapa lagi yang akan saya jadikan tempat mengadu? Siapa nanti yang akan tersenyum bahagia ketika saya menikah? Siapa yang akan tertawa bahagia ketika saya melahirkan seorang anak, yang akan ikut cerewet membantu saya mengurus anak saya? Siapa lagi yang akan hadir dalam rajutan mimpi indah saya? Tidak ada.
Padahal itu pernah saya impikan, pernah saya cita2kan.. tapi sekarang.. sirna.

Sepersekian menit setelah diberitahu kabar itu, saya langsung balik ke Padang. Sambil menangis di telpon saya mohon agar Mama saya jangan dikuburkan dahulu. Saya ingin melihat Mama untuk terakhir kali. Saya ingin menciumi Mama bertubi2, saya ingin memeluk Mama, saya ingin menciumi setiap helai rambut Mama yang halus dan wangi. Saya ingin bersimpuh di kaki Mama dan meminta ampun, serta bilang betapa saya sangat menyayanginya. Betapa saya sangat mencintai Mama walau kami terpisah jarak.

Sesampainya saya di Padang, saya kembali histeris. Melihat banyak orang di rumah, saya makin tak percaya bahwa Mama sudah pergi. Mama sudah tidak ada. Saya tak hentinya menangis. Saya bahkan tidak tahu ada saudara, kerabat serta sahabat2 saya datang. Saya kehilangan akal. Saya tidak waras. Yang saya ingat waktu itu. Saya belai2 tangan Mama dan saya menangis sambil menceracau dan meminta Mama bangun.. Tapi tidak mungkin.

*****

Hari hari berganti…

Saya mencoba ikhlas. Tapi sulit.
Apalagi ketika saya melihat semua barang2 Mama, dokumen2 Mama, hape Mama, dimana banyak sekali foto saya… Foto saya di semua negara yang pernah saya kunjungi Mama simpan di hapenya.
Dan saya kembali menangis. Begitu bangganya Mama pada saya.
Begitu sayangnya…

Saya ingat ucapan Mama, “Leng, kalau Mama basobok (bertemu) dengan kawan lama Mama, maka yang ditanya bukan berapa banyak harato (harta), tapi dima (dimana) anak Mama sekarang? Jadi, kesuksesan kita itu diukur dari berhasil atau tidaknya anak kita…”

Bagi Mama, pendidikan dan etika lebih penting daripada harta. Dan justru karena itu Kakak mengagumimu, Ma…

*****

Saya sekarang piatu.
Tanpa kasih sayang seorang Ibu.
Tanpa ada lagi yang menelpon setiap waktu
Untuk mengingatkan dan mendoakan..

Ya Allah, cepat sekali Engkau ambil Mama
Saya belum siap dan mungkin memang tak akan pernah siap..

*****

Saya memang hanya orang biasa, tak berhak mengajari orang lain, tak berhak untuk menasihati orang lain. Tapi percayalah, yang saya sampaikan saat ini tak lain dan tak bukan adalah karena saya ingin berbagi… dan juga sekedar mengingatkan…

Sayangi orang tua kita sebelum semua terlambat. Cintai mereka, bahagiakan mereka. Luangkan waktu lebih dengan mereka. Peluk mereka dan katakan betapa kita sangat menyayangi mereka. Doakan agar mereka panjang umur dan diberikan kesehatan… Sebelum kematian datang dan kita tidak bisa lagi berbuat apa2 untuk membuat mereka bahagia dan bangga…

*****

Ma, betapa Kakak rindu Ma…

6 Weeks Fellowship in US (Fun, Teary and Unforgettable Moment!) #1

Assalamualaikum!

Hi, back with me again! Setelah postingan banyak yang kepending karena sibuk selama di US, now I want to share everything about my life during 6 weeks in United States. Yang pasti semuanya super duper menyenangkan, ada air matanya juga, dan yang pasti tak terlupakan!

So, mari kita mulai dari cerita saya menapakkan kaki pertama kali di United States…

27 April 2017

Setelah mabok udara karena terbang hampir 25 jam dari Jakarta – Narita – Denver – Washington, finally sesampainya di Washington kami sudah dicarterkan bus oleh ICMA menuju Arlington suites! Yep, kami bakal stay di Arlington suites selama orientasi! Yey! Dari Washington Dulles airport menuju Arlington lumayan jauh juga, sekitar 45 menitan. Duh padahal badan udah rasa remuk dan pengen cepat2 sampe hotel dan tidor! Fyi, Arlington suites itu semacam private hotel and residences yang menyediakan kamar mewah beserta isinya yang lengkaaap! Ada kitchennya, ruang tamunya, lengkap dehhh! Saya sih super happy karena ada dapurnya, jadi malem2 kalo laper biar bisa masak indomie hahaha

Sesampainya di Arlington, udah hampir tengah malam, dan karena saya udah capek banget saya langsung menuju kamar di lantai 10. Ternyata sudah ada temen sekamar saya yang sampe duluan. Dia dari Laos dan namanya Maiyer. Kami ga sempet ngobrol panjang karena udah sama2 capek (Maiyer juga baru sampe beberapa jam sebelum saya). Ya udah time to sleepppp… bersiap menghadapi esok hari!

1ST Day of Orientation

Hari pertama saya bangun terlalu pagi, ya karena tubuh masih mencoba menyesuaikan dengan perbedaan waktu 11 jam, maka saya kebangun pagi banget dan langsung kepikiran untuk jogging alias melihat2 sekitar Arlington haha skalian cuci mata juga yesss! Sehabis jogging keliling2 Arlington, saya pun balik ke hotel, ngopi sebentar dan siap2 Β mengikuti orientasi πŸ™‚

Baru masuk ke ruangan orientasi udah disambut dengan tumpukan file yang berisi ucapan selamat datang di Washington DC, serta penjelasan program fellowship ini. Saya juga bertemu rekan2 dari 9 negara lain di Asia Tenggara. Tapi gak cuma kenalan dengan teman2 yang hebat, kami juga dibekali ilmu dari para speakers2 yang dihadirkan oleh ICMA. Para speakers ngasih paparan tentang how to deal with American culture, how to adapt di lingkungan kerja di Amerika, gimana sistem pemerintahan di sana, dan hal2 lain yang pastinya akan berkaitan dengan fellowship kami selama 6 minggu.

Selain itu ada juga kaya how-to-solve a case related to environmental issue and legislative governance (karena ICMA menghandle dua tema itu). Pokoknya seruuu! πŸ˜€

20170427_214537
My file! Greetings from ICMA
Capture
Some of the ICMA fellows
20170428_002752
Salah satu sesi pagi di orientasi hari 1

Selesai sesi pertama, perut keroncongan.. Ngarepnya ada snack macam lapis legit, risoles sama keripik kaya di Indonesia, tapi nihil haha.. Cemilan yang ada cuma bagel and cheese, jadi ya udahlah ya daripada kelaperan

20170428_012947
Bagel and cheese penolong saat laper!

Lanjut sesi ke-2, kami mulai digabung sesuai dengan tema masing2. Dan karena saya ada di tema Environment, jadi harus catch-up dengan teman2 di grup Environment dari 10 negara di Asia Tenggara. Kami juga harus menyiapkan video project yang akan ditampilkan nanti di Professional Fellows Congress ketika fellowship kami sudah selesai. Seru bangettt, diskusi soal tema video yang akan dibuat, kaya apa kami bakal mem-present video nya, de el el.. haha πŸ˜€

20170428_051136
Diskusi soal video project
IMG_3336
Environmental Sustainability team from Southeast Asia!

Orientasi berlangsung sampe sore, which is artinya malem kami bebas mau jalan kemana aja, yeaaay! Tapi, malam itu kami gak bisa puas2in keliling Washington DC. Karena kami diajak sama untuk ikutan acara YSEALI – Cultural Vistas Seeds for the Future di headquarternya. Acara itu dihadiri oleh banyak rekanan YSEALI, termasuk Atase Pendidikan Indonesian di Washington DC. Yeaaay keren!

Capture
Dengan Bapak Atase Pendidikan Indonesia di Washington DC
20170428_091314
Hello from Washington DC

Selesai acara pastinya kami semua (Indonesian fellows) cuss jalan2. Ya ke Chinatown, ya ke National Mall, de el el.. And here are the glimpse of pictures of DC

20170428_093448(0)
Jalanan di Chinatown at night
20170428_094959
Chinatown station before taking the train
20170428_102256
Fellows in National Mall πŸ™‚
20170428_111815
Di kereta, mau balik ke hotel

Asli hari pertama di DC, saya pegeeellll banget! Orientasi sampe sore, lanjut acara Seed for the Future dan jalan2 malem. Tapi beneran, hepiiii banget. Feel so amazinggg! Bisa sampe ke DC dan melihat semua kemegahan US melalui negara bagian Washington DC. Berasa mimpi gak? Pasti! Di sisi hati saya terdalam, saya bersyukur banget bahwa Allah kasih kesempatan ini di hidup saya. Gak semua orang bisa ke DC, for free lagi πŸ™‚

Keseruan hari pertama is just the beginning, tunggu keseruan berikutnya yaaa.. Karena on the next day, saya dan teman2 bakalan ke Georgetowwwnnn!!! Yeaaaaayyy πŸ˜€

Tunggu postingan selanjutnya ya!