Random Notes: Masih Adakah Cerita di Padang?

Padang… jujur kota ini tak banyak berubah sejak kutinggalkan awal 2015 lalu. Ya, awal 2015 kuputuskan untuk mengejar karir di Jakarta dan meninggalkan kota Padang dengan segala ceritanya. Cerita indah.. sedih dan juga pahit…

Tapi entah kenapa, relasiku dengan kota ini seolah tak pernah berakhir. Bukan hanya karena orang tua dan adikku yang masih stay di kota ini, tapi juga karena pekerjaanku yang sepertinya selalu membawaku kesini. Hm, entah itu untuk sekedar transit karena ada penelitian di Mentawai, atau bahkan ketika aku diundang sebagai pembicara seminar di kota ini.

Padang… kota kelahiranku. Setiap sudutnya masih menyapa ramah. Walaupun ada beberapa sudut yang mulai terasa asing karena tak kukenal lagi wujudnya. Budaya luar begitu cepat menggerus kota ini dalam waktu 2 tahun. Bukan budaya luar yang aneh2, akupun sulit mendeskripsikannya. Hanya saja yang kulihat sekarang banyak tempat nongkrong anak muda yang bermunculan. Semua mengusung konsep yang sama. Food for your Instagram. Not food for your stomach. Jangan mengerinyitkan dahi dulu. Itu yang kulihat. Aku mengikuti perkembangan kota Padang melalui social media yang kupunya, baik itu Facebook yang sudah hampir kadaluwarsa, maupun Instagram dan Path yang jauh lebih kekinian. Yang kulihat di social media adalah… people went to a fancy café or restaurant, just to feed their instagram, not to feed their stomach. Once they thought those cafes or restaurants did not provide good menu, they will leave it and move to another ones. Kafe atau resto yang lebih kece, yang jauh lebih instagrammable. Am I correct?

Well, sebenarnya tidak ada perkembangan signifikan atas kota ini. Infrastruktur masih tak menggeliat.  Jalan2 utama di kota ini masih seperti dulu. Pun jika ada pembangunan pelebaran jalan di area By Pass, yang kulihat hanya stagnan. Investor pun sepertinya enggan mendekati kota ini, banyak kemungkinan. Mungkin karena pimpinan kota belum siap untuk menghadapi akulturasi budaya dan zaman atau karena kota ini sering terkena bencana gempa dan isu tsunami (sehingga investor berpikir seribu kali tak mau rugi dalam menanamkan modalnya) ataupun… karena masalah tanah ulayat yang sungguh pelik menyebabkan investor enggan melirik. Entahlah…

Tapi kota ini masih sangat kucinta. Kucinta kota ini karena orang2 yang kusayangi (Mama, Papa, Lintang dan seluruh keluarga besarku masih disini). Pun, aku menghabiskan lebih kurang 28 tahun hidupku di kota ini. Bekerja apa saja di kota ini. Mulai dari menjadi guru les Bahasa Inggris, pekerja kemanusiaan di NGO, bahkan menjadi dosen. Tak mungkin aku tak cinta kota ini, bukan? Kata sebagian temanku yang juga menjadi pejuang perantauan sepertiku, kota ini memang kota yang cukup nyaman untuk ditempati, tapi bukan kota untuk merajut sebuah mimpi besar. Sungguh sulit untuk mewujudkan impian di kota ini, demikian beberapa temanku jamak mengutarakan pendapatnya. Lantas aku, apa mimpi besarku? Apa aku seperti teman2ku, yang menafsirkan bahwa untuk merajut sebuah mimpi besar berarti aku harus pergi dari kota Padang? Jawabnya, mungkin. Ya, mungkin… Tapi bagiku, tak masalah seberapa besar sebuah impian, tapi bagaimana impian itu bisa menuntunku menjadi seseorang yang lebih baik dari segi apapun.

Pic source: google.com

Padang. Beragam kenangan pernah terjadi di kota yang tak seberapa luas ini. Gelak tawa dan air mata perih. Bahagia dan pedihnya merajut kasih. Semua pernah ada. Di sudut2 kota kutemukan berbagai kenangan indah dengan para sahabat gank SMA, di sudut lain kulihat tempatku berdiskusi dengan beberapa sahabat terdekat. Pernah kuutarakan cita2 disana dengan mereka. Sebagian ada yang menguap begitu saja, sebagian banyak juga yang jadi nyata. Padang… ah, di sudut lain kuingat bahwa ada toko buku tempatku menjalin cinta monyet dengan si dia dari masa lalu. Ada juga bengkel pinggir jalan tempat menambal ban roda dua yang bocor ketika naik motor dengan si dia…, pun tak ketinggalan simpang Permindo tempatku menunggu angkot untuk pulang ke rumah. Semuanya masih ada, namun tak lagi sama.

Kota ini… masih sangat banyak menyisakan kenangan. Namun, sebuah kenangan bukan untuk diulang, kan? Dia akan jauh lebih berharga untuk dikenang saja 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s