Work-Trip to Gerbangkertosusila #2

Assalamualaikum! 🙂

Hari ini pagi2 gw udah bangun. Well, semalam tidur nyenyaaak banget, walopun tidur sendirian tapi ga ada prasaan spooky sama sekali, Alhamdulillah!
And yes, setelah bangun, mandi, saatnya bersiap sarapan… Kalo biasanya gw sarapan dengan menu2 ‘londo’, tadi gak, gw lebih pengen makan ‘comfort’ food kaya gado2… hihi tumben 😛
Gw nyicip juga sih sosis dan scrambled-egg nya, tapi secara I miss veggies, so gw menikmati gado2 dan buah2an aja…

Kelar sarapan, gw dan Mbak Kitty pun langsung menuju ITS dengan Pak Mat (driver kami), untuk menjemput Mas Aris dan Mbak Nisa (dosen muda ITS), dan setelah itu kita cuz menuju Bappeda Prov. Jawa Timur. Ayok Pak Mat, kita let’s gooo…

Sampai di Bappeda, kami langsung menuju lantai 3 untuk diskusi dengan staf Bappeda Jatim tentang RTRW yang ada di Jawa Timur dan Gerbangkertosusila… Kami dapat penjelasa yg clear bgt dari staf Bappeda, which can enrich our research…

Bencana yang dominan di GKS sebenarnya ada 2, yaitu banjir dan kebakaran.

Sebenarnya masih ada jenis-jenis bencana lain seperti genangan air dan limbah yang menyebabkan kerusakan lingkungan, namun karena belum tercover oleh pemerintah maka belum dikategorikan sebagai bencana yang besar.

Misalnya saja, persoalan tentang penanganan limbah B3 yang berawal dari kesalahan tata kelola.

Limbah B3 belum bisa dikategorikan sebagai bencana, padahal sebenarnya jika dibiarkan bisa berpotensi besar sebagai bencana yang merugikan masyarakat.

Ada beberapa solusi yang sebenarnya bisa diambil pemerintah:

–          Kabupaten/kota di Jawa Timur harus siap untuk melakukan pengolahan limbah B3, karena tidak bisa dipungkiri ini menjadi masalah besar (wilayah Jawa Timur, terutama GKS sebagian besar adalah kawasan industry). Dan pada saat ini hanya satu daerah yang memiliki IPAL (Instalasi Pengelohan Air Limbah).

–          Bencana yang belum tertuang di dalam RTRW Jawa Timur adalah bencana kekeringan. Padahal bencana ini cukup mengancam di beberapa daerah seperti; Bangkalan, Sidoarjo dan Gresik. Ketiga daerah ini rawan dengan bencana kekeringan karena sistem irigasi yang ada sudah tidak mampu lagi mengakomodir kebutuhan air untuk ladang/sawah ketika musim panas tiba, walaupun di daerah-daerah tersebut banyak saluran irigasi dan bendungan.

–          Di Sidoarjo sendiri, muncul isu baru untuk bisa mengkaji masalah drainase dan sanitasi.

Jawa Timur, khususnya di kawasan GBK, penduduk mulai mengesampingkan aspek kebencanaan. Misalnya saja baru-baru ini di Sidoarjo dan Gresik:

–          Sioarjo, banyak investor dan developer yang membangun pemukiman di daerah yang ‘restricted’. Daerah itu dikategorikan sebagai daerah terlarang karena daerah tersebut awalnya merupakan daerah tambak. Dan disini muncul pertanyaan krusial, bagaimana mungkin daerah yang awalnya dilarang untuk pemukiman kemudian diberikan izin untuk dibangun pemukiman dan perumahan mewah (apartemen, dll). Alasannya tentu saja, masyarakat menyukai aksesnya yang cukup dekat dari pusat kota dan harganya yang terjangkau jika dibandingkan mereka harus membuat/membangun rumah sendiri, tentu memiliki hunian di apartemen yang dibangun oleh investor/developer jauh lebih murah (jika mereka membangun sendiri, tentu mereka harus ikut membangun infrastruktur menuju pemukiman tersebut, ini bisa memakan biaya sampai 500 jutaan. Tapi jika mereka tinggal di apartemen siap huni, mereka hanya membayar 200 juta, tanpa perlu membangun infrastruktur lain). Kecenderungan seperti inilah yang membuat masyarakat menyukai tinggal di daerah pinggiran. Alasan ekonomis seperti ini tidak bisa diindahkan begitu saja.

–          Di Gresik juga terjadi hal yang serupa, di daerah tersebut banyak terdapat lahan yang kurang produktif (tidak bisa dimanfaatkan untuk pertanian), kemudian ada investor/developer beserta Kementerian Perumahan Rakyat yang ingin membangun pemukiman di area tersebut.

Dari kedua contoh tersebut diatas, maka bisa disimpulkan bahwa masalah perizinan di Jawa Timur, khususnya kawasan GKS banyak terjadi penyimpangan dan ‘pasal karet’. RTRW bukan lagi menjadi pedoman bagi perencanaan wilayah, tapi RTRW yang harus mengikuti dinamika pertumbuhan penduduk, ekonomi/pasar.

Sementara, di Surabaya sendiri, investor/developer tidak mau lagi melakukan proses pembangunan di pusat kota Surabaya dikarenakan padatnya penduduk. Maka dari itu, developer mulai melakukan ekspansi pembangunan ke wilayah peri-urban.

Trend pergeseran penduduk saat ini adalah ke arah Gresik Selatan.

Inilah masalah yang holistic di Indonesia, yaitu aturan zonasi sangat banyak jumlahnya, namun aturannya belum terlalu jelas oleh semua kalangan.

Contoh yang ekstrim adalah yang sudah disebutkan tadi, yaitu masalah hutan mangrove yang bertransformasi menjadi kawasan perumahan. Walaupun sempat dihentikan pembangunannya, namun kemudian dilanjutkan kembali.

Masyarakat, terutama kaum migran banyak mencari lahan pemukiman di tanah oloran (tanah yang berupa delta yang terjadi karena sedimentasi/endapan, ini bersumber dari sedimentasi lumpur lapindo). Dan sayangnya, BPN sendiri juga ikut mengeluarkan izin atas tanah ini, contohnya bisa kita lihat di kawasan pembangunan pemukiman yang diprakarsai oleh Ciputra.

Bangkalan (area terakhir yang tergabung dalam GKS) merupakan sebuah area yang terhubung dengan kawasan Surabaya karena adanya jembatan Suramadu. Bangkalan merupakan ‘anak bontot’ yang kurang dianggap dalam kawasan GKS karena area ini dianggap kering dan tidak subur. Oleh karena itu, banyak orang Bangkalan yang bermigrasi ke Surabaya ( dengan alasan untuk mencari penghidupan yang lebih baik ke daerah yang lebih subur).

Isu strategis yang muncul di level pemerintahan:

–          Gubernur Jawa Timur lebih cenderung membangun kea rah Selatan. Karena asumsinya, daerah GKS sudah sangat berkembang, hanya tinggal pengendaliannya yang perlu diperhatikan. Justru itu, focus pembangunan adalah ke wilayah lain selain GKS.

–          Pemukiman kumuh sangat dekat dengan kawasan industry. Karena masyarakat/penduduk asli lebih suka membangun rumah petak/kos2an untuk para buruh industry. Ini merupakan peluang usaha bagi mereka dalam menyediakan pemukiman bagi para buruh sektor industry.

–          Belum ada kajian spesifik kebencanaan di provinsi Jawa Timur. Ini seharusnya bisa disiapkan dan dibuatkan dokumennya.

Kelar diskusi dari Bappeda, kami pun menuju ITS lagi. Di ITS sebenarnya lebih membahas hal teknis soal FGD besok, plus skalian kami disuguhin makan siang sama Ketua Prodi PWK disana… Menunya biasa sih, ayam penyet beserta tempe dan lalapan, tapi sambel’e enak rekkk!!! *pake logat Suroboyo hihi :p
After lunch dan nge-set acara FGD besok, gw dan Mbak Kitty mutusin bwat balik ke hotel untuk ngerjain beberapa persiapan bwat besok.

Tapppi, kita cuma bentar di hotel, secara ga betah lama2 di hotel kan yaaa hoho… Jadilah kita jalan malam sekaligus cari makanan khas Surabaya. So, lets go berburu makanan 😀
Setelah muter2 kota Surabaya yang cantik bgt lampu2nya pada malam hari, sampailah kita di Padin, tempat makan yang terkenal banget dengan sambel pencitnya hohoo… Dan lauknya beragam, mulai dari kakap, bawal, cumi, udang, burung dara, ayam, tahu tempe, dll… Begini penampakannya…

Di Padin, sistemnya gini, kita pilih menu yang dipengen, kemudian kasih lagi ke Mas2 yang jual, kita bayar, kemudian Mas2nya goreng/bakar lagi dan tunggu menunya disajikan ke kita. Well, di Padin cukup mahal sih *waktu makan gw pilih bawal, cumi, tempe, tahu, sayur daun ubi dan gw kena 81.000! Luar biasaaaaaaaa mehong cin 😦
Tapi harus diakui, sambelnya enyak :9

Oke lupakan makanan yang mahal gak ketulungan itu… Selesai makan, kamipun berancuz cari es degan alias es kelapa muda… Setelah berkeliling, akhirnya nemu juga es degannya… And lagi2 kami shocked. It costs 15.000! Hikks, di Padang es degan alias kelapa muda cuma 6.000 lohhh 😦
Lagi2 kami merasa gak worthed pemirsahhh… hiks! Tapi ya syudahlah yaaa… Udah terlanjur ini… Dan ini foto gw dan Mbak Kitty di depan kios degan 🙂 *maafkan muka gw gak kontrol pemirsahhhh… hihi

Alhamdulillah, perut kenyang, hati senang, saatnya tidur… huehehe we’re back to hotel dan bersiap untuk FGD hari Rabu besok. Yeaay. Lancarkanlah acara besok Ya Rabb… Aamiin 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s