Jalan Berliku Berujung Tawa Bahagia…

Assalamualaikum.

I have loooots of stories to tell ya. Yes, A LOT! This month is the happiest month in my life, and I will tell you what happened later on. Now I just give you a clue. Yes a clue. You may see the picture below as the clue 🙂

Lengga Kelulusan Lipi

Januari ini memang penuh berkah dan rahmat dari Allah SWT. Yes its true! Di Januari ini, tepatnya tanggal 13 kemarin Allah kasih berkah yang luuuarrr…biasa dalam hidup gw, I was chosen as the Researcher in LIPI! Yeaay! Alhamdulillah…

Tapi lulus LIPI Ga segampang ngebalikin telapak tangan, banyak banget jalan yang musti ditempuh, and of course that road was not easy… mari kita sedikit take a glimpse on my journey from 2011 until now.. loh, kenapa dari 2011? Karena di tahun itulah gw mulai berkarir, di-bully, dilecehkan, gak dianggap serta pernah dibayar dengan gaji yang gak sesuai… hehe *mesem mesem sambil sedih*

Okayyy… mari kita mulaiii…

TAHUN 2011 – DIKECEWAKAN SENIOR SENDIRI DAN KEMUDIAN MENCOBA (KEMBALI) BERGABUNG DENGAN SALAH SATU NGO INTERNASIONAL

Di akhir tahun 2010, setelah jatoh bangun ngerjain thesis yang berjudul “Gender Participation in Food Provision at Post-Earthquake Period” yang mengambil lokasi penelitian di Pariaman dan lulus sidang thesis dengan nilai A, gw mikir, its time for me bwat mengaplikasikan ilmu INRM gw di dunia kerja. Yes. Saatnya memakai ilmu yang didapat dan cari uang pastinya huehehe…

Dan Alhamdulillah di bulan ketiga di 2011 itu, gw dapat tawaran dari salah seorang senior gw di INRM, yang awalnya manis namun berujung kekecewaan. Kenapa gw bilang gitu? I will tell you why….
so, senior gw di INRM itu punya sebuah lembaga lokal, yang concern soal sustainable development, dan dia mau menjalankan lembaganya itu. Tapi sayangnya, dia ga bisa terjun langsung, karena dia domisili di Jakarta, sementara lembaganya itu ada di Padang. Jadi dia kontaklah gw dan pengen gw menjalankan lembaganya itu. Jujur ya, at first, gw seneng, gw ga mikirin lah berapa besar gajinya, at least ongkos gw ke kantor alias lembaga itu balik (at that time, ongkos masih sekitar 2000 perak untuk angkot). Untuk menindaklanjuti hal tersebut, gw dan dia pun ketemuan di salah satu warung kopi di kawasan Pondok.

After that small-talks in warung kopi, dia kemudian memilih gw sebagai program manager di lembaganya. Waktu itu program pastinya belum ada, namun dia ancang2 bikin program tentang DRR (disaster risk reduction) di daerah Pasaman bersama 2 lembaga lokal lain (yaitu Daulat Institute dan Insdeps Institute), dan program itu rencananya bakal didanain oleh UNDP. Gw sih seneng banget, secara its time for me to learn about humanitarian program… dan saking senengnya (atau gobloknya gw) gw mau aja di-php-in bakal dibayar 600.000 per bulan sebagai uang lelah. Bahkan, senior gw tersebut minta gw untuk merekrut salah satu rekan lain sebagai peneliti dan seorang finance agar kelengkapan struktur di lembaganya makin baik. Tapi, sebelum perekrutan itu dimulai, gw diajak senior gw itu ke Nagari Batu Bajanjang Kabupaten Solok untuk menjadi salah satu fasilitator kebencanaan. At that time, I felt so happy. Gimana enggak, kegiatan di Kabupaten Solok itu didanai langsung oleh UNDP dengan PKPU sebagai rekanan. Kebetulan senior gw itu adalah konsultannya PKPU, jadilah dia “mencipratkan” gw utk terlibat di kegiatan itu, dan gw dipercaya sebagai fasilitator untuk bidang advokasi kebencanaan (karena background gw ada hukumnya, jadi gw wajib memasukkan unsur hukum di proses fasilitasi gw). Acaranya berjalan lancar, fasilitasi gw juga gak memalukan (karena sebelumnya gw terbiasa ngajar dan kocak, jadi masyarakat sangat enjoy dengan fasilitasi gw). Pokoknya it was amazing. Dan di akhir acara (kalo ga salah 3 hari setelah itu) gw juga terima amplop dengan isi yang lumayan, sekitar 150.000,-

Gw seneng banget, dan bertekad untuk kerja di NGO, mau itu lokal kek, internasional kek gw gak peduli (sebelumnya tahun 2010 gw juga pernah jadi translator di Terre des Hommes Netherland) dan salarynya cukup gede. Bagi gw waktu itu, intinya gw bisa ke lapangan, ketemu orang, berbagi ilmu dan dapet uang. That’s it.

Pulang dari Solok, senior gw kembali meminta gw untuk melakukan proses perekrutan. Jadilah gw merekrut 2 orang cewe, yaitu Ni Rika (temen S2 gw) dan seorang cewe tamatan ekonomi namanya Tasia. Kami bertiga jadi deket banget, kami biasa diskusi di kantor kemudian pas pulang kantor sekitar jam 4 sore kami pasti nyempet2in foto kalo mau pulang. Pokoknya kami coba enjoy. Time flies, minggu demi minggu berlalu… Setelah kami bertiga stay di kantor itu dan masuk (hampir) setiap hari, kami mulai mempertanyakan. Ini lembaga kapan sih programnya berjalan? Masa ga ada kegiatan kantor? Kapan uang lelah kami dibayarkan… pertanyaan itu tak kunjung terjawab sampai di akhir bulan kedua. Di awal bulan ketiga kami di kantor, senior gw itu balik ke Padang, dan dia ngadain rapat sama kami bertiga. Akhirnya dia ceritalah kalo proposal program yang dia masukin ke UNDP tadi dipending dan belum tentu kapan duitnya keluar. Dan yang lebih mengecewakan, dia ga bisa membayarkan uang lelah kami selama 2 bulan itu. Kecewa? Pasti… sakit hati? Well, gw ga tau… gw sedih, kecewa, itu pasti… tapi sakit hati? Gw gak berhak untuk itu. Gw aja yang dodol, gampang percaya sama suatu lembaga yang belum jelas berdiri dan belum jelas sistem penggajiannya. Dan yang lebih parah, gw malu banget sama 2 rekan gw tadi. Karena gw yang ngrekrut mereka, tapi gw gak bisa mempertanggungjawabkan uang lelah mereka. Perasaan gw bener2 campur aduk saat itu…

Tapi itu bener2 kasih pelajaran berharga di hidup gw… gw gak akan mau lagi bekerja untuk sesuatu yang gak pasti. Mending gw ngajar, walaupun kecil hasilnya tapi pasti. Itu yang gw pikirkan saat itu. Sekecewa apapun gw, Alhamdulillah Allah selalu sayang sama hambaNya… terutama gw (hehe geer!) walau gw ga dapet duit gaji 2 bulan, tapi setelah itu tawaran ngajar dari lembaga bahasa inggris selalu ada… dan setelah itu gw fokus ngajar Bahasa Inggris lagi…

Gw ngajar les Bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa di kawasan Jl. A. Yani Padang. Dan itu selalu menyenangkan. Walau jadwal gw ga terlalu padat, tapi gw selalu hepi dengan duit yang gw terima walaupun itu gak terlalu banyak… setelah lebih kurang 3 bulan gw ngajar, one day datanglah tawaran dari spupu gw (I called him spupu Hafiz) untuk kerja di NGO international yang buka kantor di Pariaman. Waktu itu mereka bikin program DRR disana dengan pertimbangan karena Pariaman adalah salah satu daerah dengan efek gempa yang lumayan dahsyat. Nah spu2 gw ngasih tau kalo NGO itu buka lowongan utk posisi DRR Assistant, nama NGO itu adalah Islamic Relief. Gw disarankan ngirim email ke HR nya untuk apply posisi itu. Fine, gw kirim email.

Gak berapa lama setelah mereka menyeleksi email dan lamaran gw, gw pun dipanggil untuk interview ke Pariaman. Dan gw pun menyanggupi interview tersebut dan nekad ke Pariaman sendiri pake kereta api jam 6 pagi! Dengan dianter Papa ke stasiun gw pun pergi ke Pariaman.

Sampe di Pariaman, gw gak tau dimana kantornya. Jadilah gw minta tolong spu2 Hafiz untuk nganterin ke kantor Islamic Relief itu. Thank God, gw slalu dikelilingi orang2 baik. Spu2 Hafiz bersedia menjemput gw di Pasar Pariaman yang deket dari stasiun dan mengantarkan gw ke kantor Islamic Relief untuk interview. Spu2 Hafiz is one of the kindest person in my life. Thanks spu2…

Dan interview hari itupun berjalan lancar…

One week after that, gw diumumin lulus sebagai DRR Assistant di Islamic Relief. Of course, karena lulus di Islamic Relief, gw resign dari tempat gw ngajar. Bukan apa2, gw emang cukup menguasai Bahasa Inggris, tapi itu bukan keilmuan gw. Keilmuan gw adalah Hukum ditambah Integrated Natural Resources Management. Yang artinya gw harus mempraktikkan ilmu sesuai background ilmu gw, dan itu bukan Bahasa Inggris. Dan gw siap taking-risk dengan ambil tawaran dari Islamic Relief, but…, itu artinya gw kudu stay di Pariaman.

Huuuffh, awalnya cukup berat. Karena you know-lah, pindahan, ngekost dan semacamnya pasti repot. Tapi gw udah bulatkan tekad untuk total kalo bekerja. Jadilah gw pindah ke Pariaman bulan Juli 2011. Dan gaji pertama gw di sana adalah 3.000.000… itu lebih dari cukup menurut gw, Alhamdulillah Ya Rabb…

Di Islamic Relief gw belajar banyak dari Project Officer gw Bro Tasyrif dan 2 rekan asisten yang lain, yaitu Bory dan Yanti. Disana gw belajar fasilitasi yang sebenarnya. Disana gw belajar mengatur sebuah event. Disana gw belajar juga bekerja professional. Pokoknya Islamic Relief adalah tempat pertama gw belajar tentang humanitarian issue. Yang paling bikin betah, di Islamic Relief kekeluargaannya kental banget. Driver, security, staf Logistic, HR, Finance, Manager, Officer dan Assistant semuanya dekeeeeeeeeeet banget. I felt like I have my second family in Pariaman… it was an amazing time…

Sayangnya, di bulan Oktober program harus selesai. Yah, alasan klasik… duit suntikan donor untuk program itu sudah habis. Dan itu artinya kami semua juga selesai bekerja. Sedih? Pasti, ibarat kata 4 bulan itu masih seperti bulan madu (kalo kata orang yang udah menikah), nah di saat bulan madu itu kita tiba2 harus pisah. Sedih pastinyaa… tapi apa mau dikata, begitulah NGO… Saat donor tak lagi menyuntikkan dana, seketika semua kegiatan lembaga terhenti. Miris. Namun begitulah realitanya…

AKHIR TAHUN 2011, MENCOBA MENJADI DOSEN…

Selesai program itu, gw pun hijrah kembali ke Padang. Tapi kemudian salah seorang senior di Unand (namanya Bang Reza) menawarkan gw untuk jadi dosen di sebuah PTS. Gw mau banget… ibarat kata pucuk dicinta, ulam tiba, tawaran itu gak gw sia-siakan… bang Reza bilang gw harus bikin surat lamaran ke Dekan FH, dan ketemu dengan beliau untuk diinterview. Gw pun setuju dan minggu besoknya gw pun ke Bukittinggi. Thanks to Bang Reza yang udah mensupport gw untuk jadi dosen. Bang, you are one of the greatest person in my life. Makasi ya Bang… Oya, FYI, nama kampus itu adalah Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dan gw bermaksud untuk menjadi dosen di Fak. Hukum.  Gak linear dengan ilmu s2? Memang… dan itu sedikit banyak menjadi polemik di kemudian hari…

Akhir Desember 2011, setelah kirim surat lamaran dan diinterview resmilah gw menjadi dosen di FH UMSB. Dan gw mendapatkan mata kuliah ‘lungsuran’ dari Dekan gw yaitu mata kuliah Hukum Narkoba dan Psikotropika. Untuk 1,5 jam alias 2 sks, gw mendapatkan uang lelah 60.000. sedikit dibanding Islamic Relief? Ya, tapi gw tetap senang… setidaknya bisa berbagi ilmu sesuai dengan background s1 gw… Seneng kembali mengajar? Pastinya… tapi lagi2, jangan mudah terbuai dengan apa yang kita anggap indah di awalnya…

Ternyata masuk ke FH UMSB penuh dengan tantangan… dan itu tidak mudah… mulai dari sistem penggajian yang lagi2 tak professional, rekan dosen lain yang suka mem-bully padahal gw gak pernah jahat pada dia, dan banyak hal lain yang benar2 bikin perasaan gw ups and downs…

Fyi, Dekan mengharuskan gw untuk jadi dosen (sekaligus staf) dan itu artinya gw harus masuk setiap hari, dan artinya lagi… gw harus stay di Bukittinggi… kembali menjadi anak kos! Oke, bukan itu masalah besarnya. Kos bagi gw adalah hal yang lazim karena gw pernah melakukannya juga pas di Pariaman. Tapi, masalahnya adalah kebijakan Dekan tidak sesuai dengan kondisi gw sebagai anak kos. Bayangkan, beliau menggaji gw 600.000 sebulan, dan itu akan dipotong jika gw terlambat, jika gw tidak hadir, dan jika gw sakit. Seems unfair? Yes. Tapi gw coba tabahkan hati dan tetap stay di Bukittinggi dan membayar kos dengan membobol tabungan yang gw punya.

Duh kalo diinget2 bikin gw sedih luar biasa… seorang tamatan s2 digaji hanya dengan 600.000 rupiah, sungguh sangat tak adil… tapi menjadi dosen adalah impian gw, dan orang tua gw sangat mensupport itu… jadi mau ga mau gw harus survive… pernah loh, gw hanya menerima 235.000 per bulan karena gaji gw dipotong dan gw sering izin pulang ke Padang. Kenapa gw sering pulang ke Padang, well to be honest, di kampus kami disuruh jadi staf dengan jobdesc yang ga jelas… terang aja gw gregetan. Kalo sekedar mengajar its okay bagi gw, tapi kalo gak jelas, itu bikin gw malas2an ke kampus… memang waktu itu sistem di kampus itu sangat buruk, ya sangat sangat buruk! GW TIDAK BERMAKSUD UNTUK MENJELEK2AN PIHAK MANAPUN, INI FAKTA DAN GW MENGALAMINYA SENDIRI. Gw lebih suka gw mengajar dan dibayar hanya honor mengajar daripada masuk namun gak punya pekerjaan yang jelas.

Selain sistem yang buruk, di kampus juga ada salah seorang rekan yang gak suka sama gw. Dia gak suka karena merasa terintimidasi sama gw… padahal gw gak pernah membully dia. Berapapun gw dikasih sks sama pimpinan, gw terima, mau 2 sks, mau 4 sks, gw tetep jalanin… itu prinsip gw, gw gak pernah minta sama orang lain. Keras? Idealis? Well, that’s me. Nah si tukang bully kerap menjelek2an gw, dia bilang gw gak pernah kuliah di luar negerilah (padahal gw kuliah Gender di Thailand), dia bilang gw gak linear lah, dia bilang gw gak punya kapasitas lah, macem2 pokoknya. Kenyang gw di bully… kenapa gw gak bales ngebully? Bagi gw ga ada gunanya memabalas orang kaya gitu. Anak ketek anyia itu bukan tandingan gw, fyi, dia setahun di bawah gw umurnya… lagian di dunia akademis itu adalah bersaing otak, bukan bersaing ngebully orang!

Lama2 gw ga tahan juga. Sikap pimpinan yang ga fair, rekan kerja yang suka ngebully bikin gw give-up dan mutusin untuk ga jadi staf lagi di bukit. Cukup jadi dosen aja. Sebelum puasa di tahun 2012, gw pindah ke Padang. Cukup rasanya 7 bulan digaji dengan tidak fair. Cukup 7 bulan menghadapi rekan yang mengaku intelek tapi etikanya NOL. Its enough! Bulan agustus gw kembali ke Padang dan ngejalanin ibadah puasa di Padang, setelah tahun sebelumnya gw puasa di Pariaman. Hati gw lebih tenang… Alhamdulillah…

2 bulan setelah itu, tepatnya November 2012, di devjobsindo ada lowongan NGO yang buka, yaitu Mercy Corps. Salah satu temen gw yang pernah punya rekanan dengan Mercy Corps, nyuruh gw iseng2 apply untuk itu. Dan vacancy itu untuk posisi Government Liaison Officer. Gw iseng apply dan dipanggil untuk interview di akhir 2012.

Proses interview gw lewati dengan lancar dan gw resmi diterima sebagai Government Liaison Officer dan mulai masuk kerja tanggal 7 Januari 2013. Nah trus dosen gw gimana? Gw tetap ngajar, tapi hanya weekend, di kelas Non Reguler dan hanya mengajar 2 sks. Gak apa2 bagi gw, gak harus sering2 ke Bukittinggi, kalo ke sana bikin sedih dan kembali inget semua kenangan pahit… so I’d better just teach 2 sks there!

2013 ARTINYA KELILING PULAU SUMATERA…

Di Mercy Corps, gw (awalnya) merasa sangat hepi. Yes, karena kerjaan gw adalah keliling ke-5 daerah di Pulau Sumatera yang jadi wilayah cakupan program. Gw bisa working and travelling ke Aceh, Medan, Mentawai, dan juga Bengkulu. Kerjaan gw apa? Memuluskan program Mercy Corps dengan melobi pemerintah di kota2 tersebut dan bikin report. Easy? It seemed so easy at first, but not in the end… ahhaha lagi2 masalah yang sama dateng! Tukang bully dan pimpinan yang gak fair… im gonna tell you later.

Januari sampe Juni semuanya masih baik2 aja. Kerjaan lancar, perjalanan ke daerah juga ga ada gangguan, pokoknya everything were smooth. Sampe one day, a problem happened. Jadi entah kenapa, selalu ada manusia kepo yang selalu mencari tau tentang gw… dan mereka sampe menkonfirmasi tentang siapa sebenarnya seorang LENGGA PRADIPTA sampe ke kampus gw, kampus Unand. Memang, pada tahun 2013 itu, gw dapet tawaran untuk lanjut s3 di University of Iowa di Amerika. Dan gw coba mengajukan beasiswa ke DIKTI, dari kampus gw pas zaman s1, yaitu Universitas Andalas, dengan perjanjian, sehabis masa studi, gw akan balik ke Univ. andalas. Dekan waktu itu, Prof. Yuliandri sangat welcome dengan niat itu. Gw pun mencoba beasiswa Calon Dosen dan mencoba mengusung itu dari Unand. Gw gak mau mengajukan dari FH UMSB karena udah hafal banget gelagat pimpinan di fakultas yang gak support gw… Oke, sekiranya pun pimpinan FH UMSB support gw, akan selalu ada oknum yang gak suka gw lanjut skolah… that’s why gw ajukan beasiswa luar negeri untuk calon dosen dari Univ. andalas.

Tapi, gak tau kenapa, manusia kepo di kantor gw Mercy Corps, selalu aja want-to-know soal rencana2 gw ke depan… di kemudian bilang bahwa gw adalah dosen di Unand, dan double position kaya gitu gak boleh kerja di organisasi asing. Hellloo… dia ga ngerti apa, kalo posisi gw itu adalah calon dosen yang diajukan oleh Unand untuk mencoba apply beasiswa luar negeri DIKTI, jadi bukan dosen, tapi calon dosen. Sudahlah, kalo dipikir2 bisa stress sendiri. Gw masih harap maklum sama manusia kepo itu. But then the worst thing happened. Gak puas sampe disitu, oknum manusia kepo menghasut pimpinan gw untuk mencari tahu siapa gw di Unand. Dan setelah terpengaruh hasutan, si pimpinan gw pun menyuruh manusia kepo untuk ke FH Unand, dan mencari tahu siapa gw disana…

Kenapa gw bisa tahu banget??? Dekan FH Unand yang ngomong. Jadi Dekan gw telpon gw sore2 setelah manusia kepo pulang dari Unand… Dekan gw bilang “Lengga, tadi ada orang Mercy Corps yang dateng kesini, pas saya gak ada di tempat, yang ada Cuma sekretaris saya dan resepsionis. Orang dari Mercy Corps itu bilang, mereka ingin tahu tentang Lengga, apakah Lengga dosen disini atau bukan. Kemudian dijawab oleh sekretaris saya, Lengga memang diajukan sebagai calon dosen dari sini untuk beasiswa ke Amerika. Tapi sekarang belum jadi dosen tetap di Unand, masih mengajar di UMSB”.

Seketika kagetlah gw, dan malu. Sebegitu kepo-nyakah mereka sehingga perlu mencari tahu tentang gw ke pimpinan di Fakultas Hukum? Bukannya mereka (pimpinan gw dan si manusia kepo) bisa tanyakan itu langsung ke gw? Seberat itukah bertanya langsung ke gw, padahal gw dan mereka satu kantor??? Entahlah, gw bahkan ga bisa menjawab pertanyaan itu… yang gw tahu, gw sangat kecewa dengan sikap pimpinan gw… sangat kecewa dan sedih…

Setelah mendapat telpon dari Dekan FH Unand, Prof. Yuliandri, gw menghadap pimpinan gw di Mercy Corps untuk mengkonfirmasi itu. Gw jelaskan ke dia, bahwa apapun yang menyangkut tentang gw, dia bisa tanyakan langsung ke gw, jangan melalui orang lain, karena gw lah yang paling tahu apa yang terjadi dengan diri gw… akhirnya sore itu juga gw print-out kan berkas NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional) yang menyatakan bahwa gw adalah seorang dosen di PTS, bukan di Univ. andalas. Jadi gw ga ada masalah untuk kerja di tempat lain selagi itu tidak menyalahi statuta gw sebagai dosen. Fyi, waktu itu dosen swasta masih bisa mengabdi di tempat lain baik sebagai konsultan atau sebagai pekerja di sebuah organisasi. Kalo peraturan skarang (2015) kabarnya udah ga boleh… dan taboloklah pimpinan gw, dia minta maaf ke gw, namun gw udah terlanjur kecewa… dan gak nyaman

Setelah berpikir matang, November 2013 gw mengajukan resign dari Mercy Corps, yah gw harus bergerak demi impian gw sekolah s3… *waktu itu gw masih berapi-api untuk sekolah, sekarang masih semangat, namun tak seberapi-api dulu, karena ada tanggung jawab yang harus gw selesaikan sekarang* setelah resign, gw pun nekad mendaftar kursus IELTS Intensive ke Jakarta dan tinggal di Jakarta di kos-an sahabat gw, Ana…

2014 DATANG, LAGI-LAGI ADA KECEWA, TAK HANYA SOAL CINTA, NAMUN JUGA SOAL KARIR DI KAMPUS… TAPI ALHAMDULILLAH, ALLAH MAHA KUASA, MAHA PENYAYANG… SELALU ADA CERITA MANIS DIBALIK SETIAP KEKECEWAAN…

Gw memulai 2014 dengan perasaan senang sekaligus hampa senang karena terbebas dari Mercy Corps dan bisa ikut kursus intensive IELTS dan hampa karena karir mandek. Yes. Im jobless. Resign dari pekerjaan yang menggaji gw 6.000.000 rupiah di setiap bulannya, dan ga mau balik ke UMSB karena situasinya ga kondusif… Miris, Iya!!! Tapi gw masih bisa survive karena ada tabungan dan selalu ada project yang mengalir lewat bisnis yang gw kelola, Integrated Service Indonesia.

Bulan berganti, di akhir Februari, ketika gw lagi di Jakarta, Dekan FH UMSB nelpon gw dan nyuruh gw balik ke kampus dengan modus. Ya, dengan modus! Modusnya adalah dia menjanjikan gw Gaji Pokok dan lengkap dengan tanggung jawab 12 sks, tapi dengan satu persyaratan, GW HARUS BERSEDIA MEMBERIKAN SEMUA HASIL PENELITIAN GW UNTUK KELENGKAPAN DOKUMEN BORANG DI KAMPUS. Jika gak ada hasil penelitian gw untuk borang maka akreditasi kampus terancam C. Kenapa gitu, karena di kampus gw (waktu itu) kebanyakan dosen jarang yang aktif dan mau melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat. Ada sekitar 1 atau 2 dosen, tapi itu ga cukup untuk membuat akreditasi kampus bertahan B. Miris, emang… tapi walau bagaimanapun, gw cinta kampus itu, kampus tempat pertama kali gw mengabdi, di kampus itu banyak sebenarnya staf dan dosen yang idealismenya masih ada, namun selalu dirongrong oleh sistem dari pimpinan yang ga fair. Itu bikin mereka jadi ga produktif. Selain itu, gw sayang sama mahasiswa gw di UMSB. Gw ga mau kampus tempat mereka menuntut ilmu jadi C, nanti mereka susah untuk melamar tes menjadi CPNS. Lagian mahasiswa disana baik2 dan sopan2, merekalah yang bikin gw semangat mengajar…

Akhrinya setelah mempertimbangkan itu, gw pun balik ke Padang… dan kembali aktif mengajar di semester genap sekitar Maret 2014.

Terus, apa yang terjadi? Apa gw jadi dapet gaji pokok sesuai dengan peraturan DIKTI terbaru? Atau gw hanya di php? Jawabannya adalah yang kedua, lagi2 gw di PHP!!!

Gw hanya mendapat honor mengajar, dan sama sekali belum mendapatkan hak gw sebagai dosen tetap yayasan. Sedih. Kecewa. Marah. Pasti. Tapi lagi2 kata Mama, ikhlaskan jika itu belum diperuntukkan bagi kita. Padahal semua hasil penelitian gw udah diambil mereka, semua tulisan gw udah dimasukkan ke instrument borang mereka. Tapi ya sudahlah, orang yang dizalimi, suatu saat pasti akan mendapatkan kebahagiaan *that’s what my parents said*

Waktu berlalu lagi… kali ini cobaan belum selesai. Jika sebelumnya gw dibombardir di sisi professional gw sebagai pekerja dan dosen, kali ini cobaan hati menghantam pas di jantung gw *istilahnya lebay hahaa*

Akhir Mei 2014, orang yang gw kira akan menjadi teman untuk berbagi, ternyata memutuskan untuk bersama orang lain. Well, gw dan dia bisa dibilang dalam ruang lingkup yang tidak jelas. Dekat iya, tapi hubungan kami jalan di tempat. Jelas gw cukup shocked. Sedih iya. Tapi gw sadar, itu yang namanya bukan jodoh. Walaupun gw berusaha sekuat tenaga, jika Allah bilang bukan dia, maka memang bukan dia… Allah pasti siapkan yang jauh lebih baik dan yang jauh lebih tepat…

Dan gw pun ga mau pusing2 lagi mikirin soal cinta2an… gw ga menutup hati untuk siapapun, jika orangnya ada, maka gw akan jalani, dengan niat baik…

Kisah pahit asmara selesai… bulan Juli dan Agustus pun datang, di bulan itu ada sebuah conference international tentang korupsi. Gw pun inisiatif bwat bikin paper yang bagus agar diterima di conference itu. Dan Alhamdulillah, paper gw diterima dan gw pun punya kesempatan untuk mempresentasikannya. Senang iya. Bangga pasti… namun itu hanya sebentar. Ada cerita sedih yang terselip pulang dari konferensi itu. Salah satu moderator, Pak Sukanda (beliau adalah dosen gw di FH Unand) bilang bahwa menurutnya paper gw adalah paper terbaik. Belum ada yang mengangkat topic tentang korupsi hasil sumber daya alam di konferensi itu. Bapak itu kemudian menyarankan gw untuk apply menjadi dosen Unand untuk tahun 2014. Tapi lagi2 gw sedih, gw inget kondisi gw, GW TIDAK LINEAR. YA. TIDAK LINEAR. DAN ITU ADALAH MASALAH BESAR JIKA INGIN MENGABDI DI UNIV. ANDALAS. WALAUPUN PENELITIAN GW BEJIBUN. HASIL KARYA TULIS GW BEJIBUN, ITU ADALAH TANTANGAN TERBESAR GW UNTUK JADI DOSEN UNAND. GW TIDAK LINEAR! Sedih sekali, ketika tahu keilmuan S2 yang gw banggakan, yang gw perjuangkan ketika gw di Thailand tidak terpakai… padahal ilmunya sangat bagus dan aplikatif. Tapi kenapa dunia akademis mengkotak2an ilmu? Padahal ilmu itu sendiri berkembang, sama halnya dengan manusia???

Gw hanya menanggapi usulan Pak Sukanda dengan senyum sambil bilang InshaAllah gw akan apply dosen di Unand… Tapi, lagi2, gw sadar siapa gw dan gw sudah sangat khatam akan penolakan orang dengan ilmu S2 gw, yaitu INRM… jadi gw ga mau berharap terlalu tinggi.

Di bulan Agustus, gw nekad apply di salah satu kampus di Inggris, yaitu Univ. of Sussex… yes, gw NEKAD! Bagi teman2 yang ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan LoA, maka poin ini bisa dibaca…

  • Awalnya, gw kontak profesornya by email, gw coba jalin komunikasi dengan beliau dan mencoba memperlihatkan proposal gw kepada beliau, nama calon advisor gw adalah Prof. Stuart Harrop, dia expert dibidang hukum lingkungan dan sumber daya alam. yang paling penting, kita harus tahu dimana bidang keilmuan kita, kemudian browsing kampus yang punya program studi yang cocok dengan keilmuan kita. Setelah itu kita HARUS MENCARI CALON ADVISOR yang core issuenya sama dengan kita. Untuk apa? Ini akan memudahkan kita untuk melaksanakan riset s3. Karena yes, s3 adalah soal riset dan menulis. So, we have to be very sharp in searching for campus and advisor…
  • Setelah kontak profesornya, dan bolak balik merevisi proposal disertasi, saatnya mengkontak admission office kampus. Yes. Ini bagian yang terpenting. Mengontak admission office artinya kita kudu siap dengan semua persyaratan akademis. Jika ingin apply untuk doctoral program maka IELTS kita minimal harus 7. Jika ingin apply Master maka bisa 6 atau 6,5 (tergantung jurusan yang mau di apply), tapi kalo basicnya hukum kaya gw, band-score IELTSnya harus 7. Dan itu harga mati. Selain itu, harus menyiapkan 2 surat rekomendasi dari orang yang mengenal kita, baik itu pimpinan atau pembimbing pas s2… terus apalagi ya… hhhmmm… harus siapkan dokumen kaya ijazah dan transkrip berbahasa inggris, kemudian passport dan harus menyebutkan siapa sponsor kita. Waktu itu pas admission office Tanya, gw bilang sponsornya adalah pemerintah Indonesia, could be DIKTI scholarship, could be LPDP scholarship. Lebih jauh soal beasiswa itu bisa browsing ke web mereka ya… FYI, kampus di luar negeri, khususnya Amerika dan Eropa TIDAK MEMENTINGKAN LINEARITAS. AS LONG AS, RISET KITA JELAS, BERMANFAAT, DAN MEMBUAT SUATU KELIMUAN MAKIN BERKEMBANG, MEREKA MALAH SENANG DENGAN KITA. SO, LINEARITAS BUKAN MASALAH UTK DITERIMA DI KAMPUS KEREN LUAR NEGERI.
  • Soal proposal disertasi, kampus di Inggris ga mau banyak2 ciminyak. Cukup 6 atau 7 halaman, sharp and to-the-point. Yang pasti harus tau, riset kita mau ngapain aja, dan apakah itu memberikan perubahan signifikan bagi keilmuan dan spesifiknya bagi Negara kita… that’s it. Simple ga bertele2… beda banget dengan sistem Negara kita. Ah, smoga one day Negara kita bisa se-simpel itu… proposal yang sharp, to the point dan ga banyak mukadimah
  • Setelah proses admission selesai, bersiap2lah untuk deg2an… kampus inceran kita akan mempertimbangkan apakah kita eligible untuk menjadi mahasiswa mereka atau tidak. Siap2 cek akun kita *kita dikasih akun untuk bisa log-in dan mencek status kita apakah diterima atau ditolak* dan ga boleh putus asa… tiap hari cek akun sabil berdoa tentunya hehe…

SEPTEMBER 2014, KENEKATAN YANG MEMBUAHKAN HASIL!

Tanggal 1 september 2014, ketika gw lagi di Jakarta dan sedang keliling Gramedia Matraman, Mama gw telpon dari Padang. Katanya ada surat dari Inggris yang dateng ke rumah. Dan gw harus secepatnya pulang ke Padang. Jadilah besoknya pas tanggal 2 September gw pulang ke Padang.

Sampai di Padang, sujud syukur, ternyata benar itu adalah Letter of Acceptance dari sebuah kampus di Inggris, University of Sussex… Gw diterima sebagai salah seorang doctoral student di Kampus itu dengan program dan riset focus di Environmental Law. Alhamdulillah… gw seneng banget. Saatnya ngurus2 dokumen kampus dan printilannya. Ehh… wait, gimana dengan kampus yang di Amerika? Unfortunately, gw gak jadi meneruskan perjuangan di kampus itu, University of Iowa. Pertimbangannya adalah, gimana mungkin seorang mahasiswa yang mau mengambil Ph.D khusus hukum lingkungan, mengambil kuliah di Negara penghancur lingkungan terbesar yaitu Amerika. Remember Freeport in Papua???America is the State which owned the Freeport, and they (until now) still doesn’t have the clear regulation about maintaining the environment in Papua… Based on that consideration, I decided to choose UK as the country for my Ph.D!

Di bulan yang sama, CPNS buka… gw langsung inget jurusan S2 gw yaitu INRM. Gw gak brani dan gak mau sok2an nekad coba CPNS Dosen Kemdibud dari S2 gw, karena gw tahu gw gak linear. Walau gimanapun gw gak mau masukin CPNS dari ijazah S1 gw… sayang kan, masa masukin dari ijazah s1… gw sangat bangga dengan ilmu INTEGRATED NATURAL RESOURCES MANAGEMENT gw… dan mau khalayak ramai tahu bahwa ilmu ini gak sembarangan. Mungkin di Indonesia ini adalah ilmu baru. Tapi gak di luar negeri. Di luar negeri ini adalah ilmu yang sangat mendapat tempat bagi akademisi dan scientist. INRM mengajarkan banyak hal. Mulai dari harus memahami kondisi alam, perspektif ekonomi, hukum, kemudian sustainable development. Pokonya terpadu. Dan yang paling kece badai dari ilmu INRM adalah dia mengajarkan gw untuk mampu menulis. Ya menulis. Terlebih sebuah proposal untuk donor. Karena di INRM juga diajarkan LFA (Logical Framework Analysis) yang mana berguna bgt untuk memetakan pola pikir dan kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Setelah browsing sebentar, entah kenapa gw tertarik mencoba ikut CPNS di LIPI. Sambil berharap ada jurusan yang buka untuk keilmuan S2 gw. Alhamdulillah ternyata ada!!! LIPI membuka formasi untuk Peneliti Sumberdaya Wilayah, dan salah satu jurusan yang diterima untuk posisi itu adalah INRM! Mereka buka 1 posisi peneliti dan mereka memperbolehkan orang dari jurusan Ekonomi Lingkungan, Ilmu Lingkungan, dan INRM untuk apply! Yeaaaayy Alhamdulillah… lagi2 gw nekad apply!!! Walau gw tahu pasti persaingannya sangat kompetitif. Sambil menunggu seleksi dokumen, gw tetap menulis, gw bikin paper, jurnal, dan buku… Alhamdulillah bulan sebelumnya (bulan Agustus), buku pertama gw udah terbit dan didanai langsung oleh donor asing. Gw menganggap ini berkah dari Allah SWT. Allahu’Rabbi… terimakasih…

Setelah lolos seleksi administrasi, saatnya mengikuti Tes Kemampuan Dasar (TKD) di LIPI Jakarta bulan Oktober. Enaknya tes ini adalah karena menggunakan sistem CAT, jadi kita langsung tahu skor kita apakah lolos atau tidak. Alhamdulillah gw lolos TKD…

Selanjutnya ada TKB (Tes Kemampuan Bidang). Udah pasti ini tes bikin repot!!! Ada psikostest mulai dari tes kejiwaan, tes matematik, tes bangun ruang, tes menggambar, tes pengetahuan umum, sampe tes yang bikin gw eneg!!! Yaitu Kraepelin tes alias tes Koran. Ada angka berjejer2 dan kita harus menjumlahkannya dari bawah ke atas. Gila??? MEMANG! Tes itu memakan waktu kurang lebih 4 jam. Dan itu bikin gw laper pas abis tes. Hahahaa…

Selesai TKD, masih ada tes terakhir, yaitu wawancara. Huuufff… cobaan belum berakhir ternyata. Wawancara diadakan tanggal 18 November di Auditorium LIPI Jakarta. Gw kebagian jam 10 pagi. Tapi, jujur pas tes wawancara gw udah ikhlas, yang penting gw jawab sebisa gw, semaksimal gw, gw ga mau sotoy, karena pewawancara pasti akan tau jika kandidat berbohong atau sok tau. Dan gw gak mau sok2an, just be myself. Apa adanya diri kita. Karena yang mewawancarai adalah peneliti senior, (kok gw tau mereka peneliti senior? Setelah interview, malamnya gw browsing dan gw tau mereka semua adalah professor riset hebat) makanya gw apa adanya aja, berusaha tapi tetep nothing-to-loose. Yang paling penting bagi gw adalah DOA KEDUA ORANG TUA, terutama MAMA…

Pas interview, yang ditanya adalah ilmu S2 gw, dan apa yang sudah gw pernah lakukan dilapangan. Baik bekerja, meneliti ataupun menulis. Pas dan sesuai banget dengan apa yang sudah gw lakukan selama ini. Gw sangat berterimakasih untuk Ford Foundation dan EU-Asialink Project yang sudah memberi beasiswa s2, kalo ga ada donor tersebut, gak mungkin gw bisa kuliah gratisan dan menjejakkan kaki di Thailand. Yang sangat berarti di hidup gw pastinya dosen2 INRM kaya Prof. Helmi, Prof. Yona, Prof. Rudi dan DR. Mahdi, serta dosen2 lain di INRM. Tanpa mereka tentu gw ga ada apa2nya. Tanpa mereka pasti pola pikir gw masih terkotak2 dan masih lurus aja kaya jalan tol. Pasti gw masih menganggap ilmu itu adalah sebuah garis lurus. Hahaha gw emang dodol dulu. Sangattt!!! Sekarang juga masih dodol kok… in a special occasion hehehe…Trus lagi untuk dosen2 di Thailand yang udah ngajak gw untuk berpikir broader… im so thankful!!

Tapi, bukan itu aja, para pewawancara juga nanya soal pekerjaan gw di NGO. Ngapain aja gw di NGO dan apa karya tulis yang udah gw bikin. Well, walaupun gw sempet di bully di NGO gw dulu, tapi gw tetep merasa berterimakasih ke mereka. Karena mereka adalah tempat gw berproses. Tempat gw belajar juga. Gw gak pernah membenci si tukang bully dan pimpinan gw yang suka menginvestigasi siapa gw, NO. Gw gak pernah membenci mereka. Mungkin gw sakit hati dulu, tapi gw gak dendam sama sekali… gw menjadi dewasa karena proses pem-bully-an itu…

Tapi turning-point gw di sesi wawancara adalah ketika mereka bertanya soal pengalaman gw meneliti dan menulis. Yap gw yakin disitu pointnya. And I felt so lucky sering penelitian ke lapangan dan hobi nulis *termasuk nulis blog dan curhat kaya sekarang ehehhe*. The interview was smooth and its time to wait the final result and PRAY!!! Of course, berdoa adalah salah satu instrument penting. Mau secanggih apapun otak manusia, kalo Allah bilang ENGGAK, ya enggak. Gw yakin doa is powerful untuk menjawab semua keinginan kita… allahumma yasiir, waala tu asiir… ya Allah permudahlah semua, jangan Engkau persulitkan…

Sembari nunggu pengumuman LIPI, gw ditawarin temen ikut symposium soal perikanan tuna. Tapi harus submit paper. Oke, gw nekad ngirim paper berbekal sedikit ilmu kelautan dari zaman s2 dan yang pasti baca2 jurnal kelautan/perikanan. And im thanking God, paper itu lolos!!! Gw dapet kesempatan ke Bali di akhir tahun 2014 kemarin. ALLAH MEMANG MAHA BAIK. DAN ITU PASTI! Perjalanan ke Bali menjadi penutup yang manis di akhir tahun 2014…

MEMULAI SEMUA DENGAN NIAT YANG BAIK DAN SEMANGAT BARU DI 2015

2015 datang dengan cepat. Pengumuman LIPI belum keluar juga. Gw masih tetap menaruh harapan di LIPI. Sebuah lembaga yang fair, tidak melihat dari sisi linear dan tidak linear dan lembaga yang sesuai dengan passion gw, yaitu riset. Sudah lewat tahun baru dan pengumuman LIPI tak kunjung keluar, sampe2 Mama gw tiap hari nanya “udah keluar pengumuman LIPI, Leng?” gw jawab belum Ma… Mama Tanya lagi “Baa rasonyo, lai ka lulus?” gw jawab… “InshaALLAH Ma, kalo LIPI fair, ndak ado mempertimbangkan anak si anu, menantu si anu, cucu si anu, kamanakan si anu, inshaALLAH lulus ma… awak kan ndak ado pakai dekingan doh, dekingan awak Nan Satu se Ma, Allah…” gitu gw jawab ke Mama. Mau pakai dekingan, beuhhh… gw gak percaya yang begituan. Gw mau… gw diterima murni karena kemampuan gw, lagian gw ga punya saudara yang kerja di pusat atau kementrian. Jadi gw bener2 berharap ini sistem penerimaan CPNS yang fair… kun fayakunn… Allah yang menguasai semua isi langit dan bumi, gw yakin itu…

Dan memang ALLAH MAHA KUASA atas segala hal di muka bumi.

Tanggal 13 Januari, keluarlah pengumuman CPNS LIPI, dan gw dinyatakan lulus. Alhamdulillah Ya Rabb… sungguh besar kuasaMu… gw nangis pas liat pengumuman itu. Tangis bahagia. Akhirnya keilmuan gw diakui juga, akhirnya semua susah yang gw terima dibalas dengan sesuatu yang manis oleh Allah… dan yang paling penting, baru kali ini gw percaya, REKRUTMEN CPNS UNTUK TAHUN 2014 INI MURNI!!!  Dulu gw apatis sama hal itu. Tapi sekarang gw sudah membuktikannya. Tak perlu uang, tak perlu orang dalam. Cukup kemampuan sendiri dan doa. Terimakasih Allah…

Finally, yang paling penting… akhirnya gw bisa membuat Mama tenang, gak perlu tiap sebentar Mama telpon2 gw lagi kalo gw blum pulang ngajar dari Bukittinggi. Ga perlu lagi naik tranex ke bukittinggi yang bikin pinggang gw rasa mau copot karena sering macet di jalan… ahh, Allah Maha Baik… dan gw tahu Mama sangat gembira, Mama sampai bilang gini “Alah panek kamu susah nak… rasaki kamu ko mah, jan lupo basyukur yo nak…” gw makin mewek denger omongan Mama… Ma, terimakasih untuk selalu nemenin Kakak ya Ma, saat susah, saat seneng… Papa juga ikutan bahagia walau ga seekspresif Mama… Rabb, mereka berdualah saksi hidup gw, mereka yang paling sering dengerin curhatan gw dibully, ga dibayarkan gaji, mereka yang sering nganterin ke luar daerah kalo gw ambil data untuk buku yang gw bikin, pokoknya MAMA DAN PAPA ADALAH SEGALANYA BAGI GW…  ah, I love you Ma, Pa…

LIPI lulus, gimana dengan kampus? Yang pasti gw harus ninggalin kampus dan ngundurin diri. Padahal kampus suasananya lagi kondusif dengan hadirnya Dekan baru yang kooperatif. Tapi lagi2, ini sudah jalannya, dan gw harus resign… ada yang datang, ada yang pergi, begitulah hidup… tapi ini bukan perpisahan, toh gw masih dekat dengan dunia akademis, dan pasti akan tetap berhubungan dengan dunia kampus… berat memang meninggalkan mahasiswa, tapi gw yakin ini yang terbaik…

Rabb, Engkaulah yang paling tahu apa yang terjadi di langit dan bumi… Engkaulah yang paling mengerti isi hati… terimakasih sudah memberikan berkah yang luar biasa di hidupku… aku akan bekerja dengan baik, tak akan menyia-nyiakan berkah yang Engkau berikan…

Terimakasih ya Rabb… dan perjalanan ini baru akan dimulai… doakan gw supaya semua ini menjadi awal yang baik ya…

Advertisements

10 thoughts on “Jalan Berliku Berujung Tawa Bahagia…

  1. anggunmizon February 13, 2015 / 12:51 pm

    orang ini sangat menginpirasi saya dalam tujuan kedepan…tak kenal keluhan, selalu optimis dan positive thinking,,,dan yang paling penting sikap apa adanya dia…akan selalu kangen kamu kak…

  2. Miss Pradipta February 13, 2015 / 1:29 pm

    hai anggun… thank youuu… terharu denger pujiannya :’)
    bakalan kangen juga masa di UMSB 🙂

  3. d'hasmarini February 13, 2015 / 11:30 pm

    senasib kita leng….this story was also reflection of my own story of life…berjalan kaki berbekal yellow page menuju alamat disana buat masukin lamaran….pernah dibayar 60 rebe satu semester leng…di-bully teman2 kampus gara2 ikut penelitian dgn semen padang, sampai2 gak dikasih jadwal ngajar smstr itu..tapi akhirnya ada sekjur yang tau dgn kemampuan uni akhirnya ngasih jadwal wlw cm 1 mk…pas situasi kampus sudah mulai kondusif, ketahuan bny asisten yg absen lengkap,tp kt mhs jarang masuk..akhirnya nip itu pun keluar..dan itu murni tanpa uang dan dekingan….semangat lengga,….semoga kedepan kita selalu sukses dan bahagia dunia akhirat/….

    • Miss Pradipta February 13, 2015 / 11:36 pm

      Iya un… kalo diinget2 pahit rasanya… tp kata org tua, ikhlaskan, pasti nanti inshaAllah Yang Maha Kuasa kasih jalan… hehehe senasib ternyata, tp kan Alhamdulillah, uni dpt yg terbaik, di BPS… 🙂
      Allah memang gak tidur ya un, siapa yg terdzalimi, pasti suatu saat akan mendapat berkah yang luar biasa…

      Aamiin… smoga sukses dan bahagia slalu ya un 🙂

      • d'hasmarini February 14, 2015 / 11:50 pm

        amiin….thanks lengga..miss u and proud to be your friend 😀

      • Miss Pradipta February 15, 2015 / 7:48 am

        (^_^) iya un… sama2 im also proud to be ur junior in INRM

  4. MacGyver January 13, 2016 / 12:55 pm

    cerita yang menginspirasi

    • Miss Pradipta January 13, 2016 / 2:00 pm

      terimakasih mas adi!

  5. Monica Prima Sari January 13, 2016 / 1:45 pm

    Kebanting banget nih baca ceritanya Ms, what I’ve been through here is nothing compared to your journey.
    Surprisingly, our age is not that far apart.
    Thank you for sharing, and the fact that you’re inspiring is undeniable for me.
    One thing that attract me so much is about bullying. Even you – someone I know who has a really strong fighting spirit, always try to have positive thinking about anything, and always try to do what’s right to you – still experience bully at work place. I just figured out that I’m not alone, and surely there are many “me” out there.
    Bullying is not supportive to our career development. You’re so great to finally decide to back down in months..
    Enjoy your adventure in LIPI Ms. Lengga Pradipta, I’ll always keep track of your achievement from this square screen 🙂

    • Miss Pradipta January 13, 2016 / 2:06 pm

      Monik,,, hwah i checked my email and i saw your comment 🙂
      that’s such an additional energy for me…
      yeap, bully-ing its actually abstract, just because someone hates us, they do bad things and talk at our back, they didnt realize it could make us down — or at the different point, we could be stronger 🙂

      thank you monik for being a good partner – friend – and sister (AND DONT FORGET, for being my INSTRUCTOR! at ITI). love yaaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s