One Letter, “R”

Hei R,

It’s been a while since our last meeting. On January 2014, your 30th birthday. Lalu kemudian kita saling menghilang dari kehidupan satu sama lain. Dan percaya tidak jika aku bilang “I’m not missing you”. Haha aku bisa menebak, kamu pasti langsung meledek dan akan bilang “Yakin lw gak kangen sama gw, Ngge?” Tapi… Ah, sudahlah…

Hei R,

Kamu masih ingat ketika pertama kali kamu datang ke rumahku siang2? Mungkin kamu lupa. Tapi aku akan selalu ingat karena ketika itu, aku sedang menjemur kasur di lantai atas rumahku dan kamu sedang menyebrang jalan. Aku melihatmu kala itu dan langsung bilang “Oi, ngapain lw siang-siang kemari?”. Semenjak itu, maka garis hidupku pun perlahan berubah arah. Tentang kita yang semasa kuliah tak pernah dekat. Tentang aku yang katamu berbeda dunia denganmu, dan banyak lagi. Namun kita tetap saling berkomunikasi dan bercerita tentang banyak hal.

 Hei R,

Impian, buku dan dunia tulis menulis. Hanya dibutuhkan tiga topik itu untuk membuat kita larut dalam obrolan berjam-jam sambil makan. Denganmu ketiga topik itu berkembang dalam batas yang sangat luar biasa luas. Bercerita denganmu tentang impianku menjadi sebuah topik yang sangat berisi, dan membuat sebuah impian tak hanya sekedar hal yang fana, buku bukan sekedar tulisan bercerita, dan tulis menulis (yang dulu merupakan duniamu) adalah cara mengekspresikan diri dalam bentuk yang paling jujur. Denganmu ketiga hal ini menjadi suatu hal yang selalu menarik untuk ditelisik setiap sisinya.

Karena tanpamu R, impian, buku, dan tulis menulis kehilangan daya pikatnya seketika.

Hei R,

Nyaman. Hanya rasa itu yang mampu aku rasakan denganmu. Rasa nyaman yang sempat melenakanku namun aku tahu tidak bisa berkembang menjadi rasa lain.

R, Terima kasih. Karenamu aku menyadari apa yang ingin aku kejar dalam hidup ini. Karenamu aku telah melewati garis-garis pembatas yang selama ini mengekang langkahku.

Hei R,

Apakah kamu heran membaca ini? Setelah sekian lama kita menghilang dari kehidupan masing-masing lalu kamu mendapati ini. Entahlah, aku hanya merasakan sebuah dorongan untuk menulis untukmu. Tapi mungkin kamu sudah bisa menebak mengapa aku menulis ini. Kamu cukup mengenalku bukan?

Dear R,

Semua yang memiliki awal pasti memiliki akhir juga. Rasa nyaman itu pada saatnya juga harus mengalah pada realita. Dan kini masa itu tiba. Masa ketika akhirnya kamu mendahuluiku.

Dear R,

Terima kasih pernah hadir dalam hidupku. Memberi warna dan mengajarkan arti baru dalam hidup ini padaku. Aku tidak menangis R, pun tidak tersenyum bahagia untukmu, hehe…

R, semoga rangkaian kalimat ini cukup untuk menggambarkan rasa terima kasihku untuk semua hal yang pernah kita lalui bersama. You’re not the best thing in my life, but you’ve painted new color in my life. Semoga itu cukup untuk menggambarkan arti dirimu dalam hidupku.

Dear R,

Then this is a good bye for us.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s