Apa Kabar Cinta? – Cerita #2

Assalamualaikum 😉

Uhm, melanjutkan kisah sebelumnya, yaitu https://misspradipta.wordpress.com/2014/01/06/apa-kabar-cinta-cerita-1/ sekarang mari kita kembali membahas masalah klasik manusia dari zaman batu sampai zaman IPad… Yaitu C.I.N.T.A!!!

Well, kali ini saya membahas cinta dari sisi yang agak ‘liar’ menurut sebagian orang, yaitu cinta di kalangan/kaum LGBT. Buat yang belum tau apa itu LGBT, LGBT itu merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender. Waaw! Kenapa saya jadi membahas ini? Bukannya topik ini bertentangan dengan nilai2 agama (Islam terutama) dan sangat berseberangan dengan norma2 yang ada di masyarakat??? Hmmm… ya saya tahu, mungkin banyak yang protes dan menganggap saya cenderung liberal dan rebel, tapi sekali lagi saya tekankan… Saya orangnya (menurut saya loh yaaa…) cukup open-minded. Dan yes! di sekitar saya dan di sekitar kita, kaum itu “memang” ada, walau keberadaan mereka terkadang belum 100% nampak secara gamblang.

So, whether you agree or not, I will discuss about Love in LBGT’s world. Cinta dalam dunia kaum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender. Oya, sebelumnya tanpa mengurangi rasa hormat dan kecintaan saya terhadap agama saya (Im a moslem for sure!) postingan ini saya mohon tidak dikaitkan dengan iman dan keyakinan saya sebagai seorang Muslim. Karena ini murni muncul karena gejala sosial berdasarkan perspektif saya. Andd… Here we go…

Saya mengenal istilah LGBT belum lama, baru sekitar 5 tahun terakhir. Masih baru memang, tapi… saya mengenal dan berteman akrab dengan kaum “LBGT” ternyata sudah lama sekali. Seingat saya, semenjak saya duduk di bangku SMA (sekitar tahun 2002 akhir) saya sudah mengenal seorang teman yang bisa dikelompokkan ke dalam kaum ini. Tunggu dulu, jangan berpikiran aneh. Bukan berarti saya macam2 ketika zaman SMA. Tidak sama sekali. Saya tergolong anak perempuan normal, yang masih diawasi orang tua ketika umur belasan. Lantas, dimana saya mengenal kaum ini? Tepatnya di sekolah saya, saya punya teman seorang pria, sebut saja namanya N.

Singkat kata, N berteman cukup akrab dengan saya sewaktu kami duduk di kelas 3 SMA. N orangnya cukup baik dan cukup pintar, terutama di mata pelajaran akuntansi. Saking pinternya dia di mata pelajaran itu, saya sering meminta contekan LKS padanya, *hehe tidak patut ditiru*… Namun, ada satu hal yang mengganggu N… Jadi begini, dia sering dikatai (maaf) “bencong” oleh teman2 cowok di kelas kami. Agak kurang ajar memang, tapi di satu sisi, N juga tidak bisa melakukan pembelaan atas dirinya sendiri. Biasanya jika ada kejadian seperti itu, dia cenderung kesal sesaat, kemudian kembali bergaul dengan kami para cewek2 di kelas. Sounds pity, huh? But yeah that’s the fact!

Time flies dan saya makin sering dijadiin tempat curhat oleh N. Baik itu tentang keluarganya bahkan sampai kepada cowo yang ditaksirnya. WAITT… Hang-on there! Dia naksir cowo? Bukannya dia juga cowo? Uhhhm, yeah. Frankly speaking, akhirnya setelah melalui curhat2an bergembira, N mengaku pada saya kalau dia menyukai seseorang yang berasal dari kaum dia, alias sejenis. Well, jujur sebenarnya saya kaget. Yahhh… kondisi saya kan waktu itu masih SMA, pastinya di otak anak umur 17-an hal itu cukup mencengangkan, toh? Tapi herannya, saya tidak sedikitpun menjauhi N. Saya tetap berteman dengan dia seperti biasa… #mungkin sifat toleran saya agak berlebihan menurut sebagian orang, tapi yahhh.. saya tidak mungkin membenci seorang teman hanya karena dia “berbeda” kan#

Yang ada di otak saya kala itu hanya satu, mungkin seiring waktu N bisa berubah kemudian bisa menjadi pria macho hahaha… FYI, teman saya N itu cukup good-looking dan baik. Tapi yah begitu, teman2 cowo saya yang lain bilang dia “melambai”…

Ujian Nasional (dulu kami menyebutnya EBTANAS) akhirnya berlalu dan itu artinya saya meninggalkan bangku putih abu-abu. Kemudian ikut SPMB dan diterima di salah satu universitas negeri di Padang. Lalu, bagaimana dengan teman saya N? Sadly, dia tidak lulus SPMB… Tapi dia tetap kuliah dan melanjutkan di salah satu sekolah tinggi di kota kami. Singkat kata, karena perbedaan kampus kami jarang bertemu. Paling kami hanya menyapa satu sama lain di media sosial.

Tahun berganti lagi, dan yah… pemahaman saya tentang kaum LGBT masih tetap dangkal, belum banyak bertambah hehee… Tau sendiri kan, di kota saya hal ini seperti tabu untuk dibicarakan. Tapi saya tetap respect dengan kaum itu, walaupun saya tidak mengetahui banyak tentang mereka. Sampai akhirnya di tahun 2009 saya mendapatkan beasiswa S2 untuk kuliah di Thailand. Yes, it changed my mind and my behaviour (of course) to be more and mooore… respect to those kind of person.

Di Thailand, saya berkuliah di jurusan Gender and Development. Tidak usah kaget kenapa “Gender” menjadi salah satu jurusan disana. Selain Belanda, Thailand merupakan negara yang sangat menghargai persamaan hak dan kewajiban antara laki2 dan perempuan, bahasa kerennya “equality”. Eitss, tapi bukan berarti laki2 dan perempuan harus SELALU SAMA ya… Bukan itu. Di Gender and Development, saya belajar bagaimana menempatkan wanita di posisi yang nyaman, dan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki dalam hal pembangunan (baik dalam memperoleh pekerjaan, dalam hal politik, dalam hal livelihood/mata pencaharian, bagaimana laki2 dan perempuan memanajemen sumber daya alam, dsb). Jadi bukan gender yang salah kaprah. Bukan gender yang sering ditentang oleh ustadz-ustadz abal2 yang slalu bilang: Gender itu ilmu agar perempuan melawan laki-laki… ilmu yang bikin perempuan jadi sombong… bla bla bla… BUKAN ITU!!! Di Gender and Development saya belajar menghargai keberagaman. Nah keberagaman disini juga membahas kaum LGBT. Memang, itu tidak termasuk salah satu mata kuliah, tapi saya dan teman kampus sering membahas masalah ini di waktu senggang. Dan yahh… ada beberapa orang (walau tidak di Jurusan kami) yang tidak “straight”, alias mempunyai perbedaan, baik dari sisi perasaan maupun orientasi seksual. AND THAT’S THE KEY! Ini sama persis dengan kasus teman SMA saya, N…

Seperti yang sudah saya paparkan tadi, N menyukai orang lain yang berkelamin sama dengan dia. Lantas kenapa bisa demikian??? Saya menemukan jawabannya seiring bertambahnya umur saya:

  • Trauma masa lalu. Jika ada seseorang menyukai sesama jenisnya, berarti dia mempunyai “trauma” masa lalu yang menyebabkan dia menjadi demikian. Ini akan kita bahas di postingan selanjutnya, tapi jika bloggers tidak sabar silahkan di google saja ya…hehe
  • Faktor lingkungan. Bisa saja, di keluarganya (seperti di keluarga N), perempuan lebih dominan keberadaannya. FYI, N terlahir sebagai satu2nya pria di keluarga tersebut. Saudaranya semuanya perempuan. And besides that, N punya Ayah yang mungkin “kurang” mengarahkannya, jadilah dia “berbeda” ketika dia beranjak dewasa.
  • Habit/kebiasaan. Uhm, berdasarkan pengamatan saya, kebiasaan bergaul atau berteman juga berpengaruh. Contohnya N, dia tidak pernah bergaul dengan cowok, dan sangat apatis terhadap mereka. Ini bisa memicu N menjadi bersifat seperti perempuan. Selanjutnya, dia sering menempatkan dirinya sebagai perempuan, dan menyukai laki2, eventhough dia tahu itu merupakan cinta sejenis.
  • Silahkan ditambahkan jika bloggers punya pendapat lain hehe 😀

Jadi, apakah N pantas disebut kaum LGBT??? *balik lagi ke masalah LGBT*. Kalo saya bilang sih, N termasuk kaum G, dan tidak bisa dikelompokkan dalam kaum T, alias Transgender. Kenapa??? Karena dia sama sekali tidak merubah (maaf) kelaminnya dan tidak berdandan seperti perempuan. Yap! He acts normally, hanya saja hati dan perasaannya menyukai orang dari jenis yang sama dengannya. Oke, sekarang jelas kan perbedaannya 🙂

Menyukai, menyayangi, mencintai itu (menurut saya) adalah hak setiap individu. And even si N teman saya. Apapun yang dia rasakan, he has such rights over that thing! Saya gak akan ngomong surga neraka… Bah! Itu bukan hak saya untuk mengklasifikasikan amal seseorang kemudian men-define mereka akan masuk surga atau neraka. Let God takes care of that problem… 😉
Yang pasti, kaum LGBT itu memang ada, dan tugas kita menghormati keberadaan mereka, karena mereka juga manusia dan punya hak yang sama. Kan yang berbeda hanya hati, perasaan serta orientasi seksual saja, iya toh?! Yah, as long as kita tidak terpengaruh atau ikut2an, let them with their own world…

Jadi… intinya,,, cerita cinta bagian 2 ini membahas cinta pada kaum LGBT. Next bahas apa dong?! Huehehe tunggu saja, saya masih punya banyak amazing stories untuk dibagi! Happy wednesday, bloggers! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s