Buka Mata, Buka Hati Lebar-Lebar… (Jangan Melulu Disibukkan Dengan Karir – Cinta – Karir – Cinta Yang Tiada Habisnya) *Sebuah Catatan Sore di Angkot

Assalamualaikum!

Sebelum memulai membahas tentang judul yang ‘agak’ keras diatas, ada baiknya lihat postingan saya di facebook beberapa hari yang lalu 😉

Screenshot_2013-10-25-14-31-23

Screenshot_2013-10-25-14-32-11

Screenshot_2013-10-25-14-32-48

Screenshot_2013-10-25-14-33-01

Screenshot_2013-10-25-14-33-11

So, bgitulah… Luar biasa panjang pembahasan saya dan teman2 saya di Facebook beberapa hari yang lalu tentang anak pengidap “Down Syndrome”.
Down Syndrome sendiri, menurut istilah yang saya temukan di Wikipedia adalah begini:

Merupakan kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21 pada berkas q22 gen SLC5A3, yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepalamengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongoloid maka sering juga dikenal dengan mongolisme. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika danEropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali sindrom ini dengan istilah sindrom Down dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.

*source: Wikipedia

*source: Google

Look at the pic above! Isn’t he cute, guyssss??? Ow my!!! That boy is just too cute!!! 😉

Nah oke, kita skip dulu istilah2 berbau science yang sama sekali tidak akrab ditelinga orang sosial seperti saya. Yang saya tahu (maafkan jika ilmu saya masih NOL jika berbicara tentang ini), yang saya tahu, anak down syndrome itu memiliki kelainan dan sedikit berbeda dengan anak lainnya. Anak dengan down syndrome tidak bisa mengerti 100% apa yang dibicarakan oleh lawan bicaranya. (Jika ada masukan, silahkan). Tapi apa betul begitu? Well, saya tidak akan membahasnya dari sisi scientific. Lebih baik membicarakannya dari perspektif sosial saja, okay…

Jadi begini, dulu ketika saya masih aktif menjadi volunteer di LPA Sumbar (Lembaga Perlindungan Anak – red), saya pernah diajak untuk berkunjung ke salah satu panti di kawasan Kuranji bernama “Panti Sosial Bina Grahita “Harapan Ibu”. Disana saya melihat banyak sekali saudara2 kita dan adik2 kita yang mengalami disabilitas (sekarang nama nya difabel), baik itu cacat ataupun keterbelakangan mental (down syndrome).
Nah, disana ketika baru datang, kami disambut dengan tarian selamat datang (Tari Pasambahan), dan tarian itu ditampilkan oleh adik2 kita yang difabel. Mereka menari dengan sangat baik. Wew, can you imagine? Bahkan saya saja yang normal belum tentu bisa menari sebagus itu. Singkat kata, saya amazed dengan kemampuan mereka. Itu kejadian yang bikin saya terkagum2 ketika baru sampai disana.

Setelah acara penyambutan dan acara seremonial lainnya, kami ada sesi diskusi. Well, acara diskusi itu hangat sekali, karena Ibu2 pengasuh di Panti itu sangat terbuka terhadap pertanyaan kami para volunteer ini. Dari diskusi tersebut saya jadi tahu bahwa, sebagian besar anak yang berada di panti itu merupakan “titipan”. Yah anak titipan. Dan yang menitipkan itu adalah orang tuanya. Well, you must be surprised to hear it guys, APALAGI SAYA WAKTU ITU! Uhm, saya gak tau sih apa motif orang tua mereka menitipkan anak2nya disitu… Apa mereka terlalu sibuk, apa mereka ga peduli entahlah… Yang saya tahu (waktu itu umur saya masih 19an ketika berkunjung kesana), adalah mereka di panti itu tanpa orang tuanya. That simple.

Okay, ini belum bagian yang terlalu surprising bagi kalian yang baca blog ini. Ketika diskusi itu, saya juga tahu informasi bahwa, “kebanyakan” anak2 down syndrome yang dititipkan ke panti itu, berasal dari keluarga berada. Yap, KELUARGA BERADA alias KAYA. Heeehhh???!!! Nih ya, di pikiran saya yang waktu itu berumur 19 tahun, yang namanya ORANG KAYA pasti punya uang yang cukup dong untuk mengobati anaknya, atau setidaknya, bisa berupaya untuk mengobati anaknya? Ya kan???!!! Tapi kenyataan yang saya lihat lain sekali. Anak2 itu (even their parents are rich) tetep aja disana berada dibawah pengasuhan Ibu2 Panti. Astagfirullah’aladzimmm…
Saya benar2 tersentuh ketika berada disana… Apalagi ketika melihat raut wajah polos anak2 itu…

DAN… ternyata, beberapa hari yang lalu saya mengalami deja-vu!

Hari itu seperti biasa, sepulang kantor saya akan naik angkot di kawasan Simpang Alai menuju rumah saya di Anduring. Diatas angkot berwarna hijau yang saya naiki hanya ada 3 orang penumpang dewasa. Saya, seorang Bapak, dan seorang Ibu bersama anaknya. Bapak itu duduk agak ke belakang, sementara seorang Ibu dengan anaknya itu duduk pas berhadap2an dengan saya. Awalnya, saya tidak terlalu ngeh dengan keadaan di angkot. FYI, saya orangnya agak cuek dengan keadaan sekitar, tapi saya juga tidak suka mainin gadget saya di angkot. Jadi pandangan saya lurus ke depan. Tepat beradu mata dengan Ibu tadi. Kemudian saya tersenyum dan melihat anak yang sedang dia peluk. Dan mata saya bergantian memandang anak itu.
Seketika, anak tersebut juga sedang membalikkan badannya ke arah saya. Andd… Oh My!!! Anak itu ternyata anak dengan penyakit keterbelakangan mental. Yap, saya kemudian terkesiap dan diam. Saya pandangi terus anak itu, terlihat dia sedang sibuk dengan mainannya tanpa memperdulikan sekelilingnya. Ibu tersebut tetap mendekapnya dan berkata… “Apo tu nak… Apo tu sayang…” Oh My!!! Saya diam lagi. Terlihat sekali bahwa Ibu itu sangat menyayangi anaknya. Terlihat sekali bahwa kasih sayangnya tulus…
Saya kemudian tersenyum kepada Ibu itu, dan dia bertanya pada saya “Turun dima diak???” (“Turun dimana dek?” – red), dan saya bilang “Turun di Simp. Kalawi, Buk”. Hanya itu percakapan singkat kami. Selebihnya saya hanya diam dan memandang Ibu itu dan anaknya.

Saya kemudian berbicara dalam hati, kenapa keadaan yang saya temui sekarang berbeda sekali dengan keadaan yang saya temui beberapa tahun lalu ketika saya mengunjungi Panti itu? Kenapa justru yang saya temukan, ada seorang ibu (yang biasa2 saja dan cenderung sederhana) malah kelihatannya begitu sayang pada anaknya yang mengalami keterbelakangan mental? Hal yang sangat kontradiktif. Tapi nyata! Wallahu’alammm…
Saya tidak mau membahas kenapa anak itu down syndrome, biarlah itu menjadi rahasia Yang Diatas dan biar ilmu science dan kedokteran yang menjawab. Saya hanya miris, kenapa terkadang (MAAF LOH YA) banyak sekali para orang tua yang menitipkan anaknya di panti… Kenapa mereka tidak merawat anaknya sendiri? Kenapa bukan tangan mereka sendiri yang membesarkan anak2 itu? Entahlahhh… *tariknapas*
Terkadang hidup ini memang tidak adil (lagi-lagi, bukannya tidak bersyukur loh ya!). Saya mikir, apa sih salah anak2 itu sehingga dititipkan disana? Apa sih salah mereka sehingga mereka tidak merasakan kasih sayang orang tua kandungnya? Kenapa harus orang lain yang merawat? Im super sad 😦

But anyway, saya ga akan bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. Bukan kapasitas saya. Yang saya tahu… Saya tidak boleh mengeluh lagi. Saya harus Buka Mata, Buka Hati Lebar-Lebar… (Jangan Melulu Disibukkan Dengan Karir – Cinta – Karir – Cinta Yang Tiada Habisnya). Ya, saya harus banyak bersyukur. Di tempat lain masih banyak adik2 saya yang belum seberuntung saya, bisa hidup normal, bisa mengecap pendidikan, masih bisa sesekali berkumpul dengan teman, dan masih punya kedua orang tua yang masih sangat menyayangi saya. I should be thankful for that!!!
Sekarang, saatnya menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Saatnya menjadi anak yang berbakti dan menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Amiiin… Mudah2an bisa… Okay ya Leng!!! Jangan mengeluh lagi yaaaa!!! Banyak2 bersyukurrr!!! 😉

*sebuah catatan ketika deadline kantor sedang banyak-banyaknya hehehe – Happy weekend, semua!!!*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s