Meteor di Siang Hari

Apa yang sering kamu pinta dalam hati kecilmu, sesungguhnya Allah-lah yang paling mengetahui…
Apa yang sering kamu bayangkan dalam hati dan pikiranmu, sesungguhnya itu adalah doa dan suatu saat Allah akan mengabulkannya…

Kalimat di atas benar sekali. Dan saya sudah membuktikannya kemarin sore.
Ceritanya cukup panjang dan membuat saya cukup termenung. Ya, termenung. Lama sekali. Tapi setelah itu saya tersenyum. Senyum bahagia. Bahagia karena saya bisa melihat dia lagi. Melihat seseorang dari masa lalu saya, yang pernah mengisi hari-hari saya ketika saya kuliah S1 dulu.
Hhmmm… siapa dia? Sebegitu spesial-nya kah dia? Saya tidak akan menjawab apa dia begitu spesial. Biar anda semua yang sedang membaca saja yang menjustifikasinya. Dia adalah… Meteor.

Begini ceritanya…

Hari Minggu (seperti biasanya), saya pasti menghabiskan waktu bersama keluarga saya. Bersama Papa Mama dan Lintang. Dan hari Minggu itu dari pagi sampai siang saya hanya menghabiskan waktu dengan Lintang dan bermain di kamarnya.
Dan seperti biasa, ketika sudah mulai siang dan saya serta Lintang mulai kelaparan, kami kemudian bergegas mandi dan berganti pakaian. Yap, kami mau pergi makan mie ramen yang ada di daerah Andalas. Setelah makan mie ramen yang baru buka itu, kami juga rencana mau jalan-jalan ke Plaza Andalas berdua saja. Papa Mama nanti menyusul kami pakai mobil.

Jadilah tujuan pertama kami mie ramen di Andalas. Mie ramennya menurut saya enakk…sekali! Tidak sia2 membayar 15.000 untuk semangkuk mie ramen yang maknyus. Setelah makan mie ramen, kami kemudian naik angkot lagi ke Plaza Andalas. Tapi, karena tidak ada mobil angkot yang langsung menuju Plaza Andalas, jadi kami terpaksa berhenti di Permindo dan nyambung angkot biru lagi untuk sampai ke Plaza Andalas.
Ketika sampai di Permindo, ada 2 mobil yang sudah ‘ngetem’ disana. Satu mobil biru Jati, dan satu lagi mobil biru Pegambiran. Dan dua-duanya menuju arah Plaza Andalas. Awalnya, saya berencana naik mobil Jati. Tapi, karena tempat duduknya sempit, sementara saya berdua dengan adik saya, maka saya memutuskan untuk naik mobil yang ada di belakangnya, mobil Pegambiran.

Ketika naik angkot, Lintang naik duluan dan dia duduk di arah dalam. Sementara saya duduk di bangku ‘serep’ dekat pintu keluar. Baru duduk beberapa detik, tiba-tiba ada orang yang menyapa saya. Dan orang yang menyapa saya itu duduk berada tepat di sebelah Lintang. Orang itu bilang “Hei, Lengga Pradipta!”. Saya kaget dan otomatis melihat ke arah suara itu. Ternyata… orang yang memanggil saya itu adalah… Meteor!!! Hah???!!! Apa Meteor? Tuhan, awalnya saya diam beberapa detik. Sungguh saya tidak mampu berkata-kata, lidah saya kelu. Saya tidak bisa bicara. Saya seperti orang bodoh dalam beberapa detik itu. Mungkin wajah saya sangat jelek saat itu. Saya menganga. Tapi kemudian saya cepat menguasai diri, dan saya segera jawab panggilan itu… “Eh, Meteor, apokaba Meteor?” begitulah reaksi awal saya. Kemudian saya tanya dia hendak kemana, dia bilang dia mau ke Gramedia. Hati saya berdegup tak karuan. Hati saya kembali dipenuhi debaran. Saya tanya lagi (pura-pura tidak tahu), kenapa dia di Padang… Apa dia sedang liburan atau bagaimana. Dia bilang dia tidak sedang liburan. Dia bilang dia hanya menghabiskan akhir pekannya. Dia bilang dia dinas di suatu tempat di Sumatera Barat. Well, padahal saya sudah tahu itu. Saya hanya ingin mendengar itu semua dari mulutnya. Dan dia… wajah itu, senyum itu, kesederhanaan itu, sama sekali tidak berubah. Dan tempat tujuaannya untuk menghabiskan akhir pekan pun tidak berubah,  Gramedia.

Angkot berjalan cepat. Dari simpang Permindo ke simpang Moco (dekat Gramedia) hanya menghabiskan waktu 3 menit. Ya hanya sekitar 3 menit saya melihat dia dan mengobrol sekilas dengan dia. Dan diapun turun. Dia turun duluan dari saya. Ketika dia turun, dia membayarkan ongkos saya. Dan diapun berlalu. Saya masih sempat melihat punggungnya sebelum angkot berjalan lagi ke arah Plaza Andalas. Saya (lagi-lagi) hanya diberikan kesempatan sebentar untuk bertemu dia.

Adik saya, Lintang sangat mengetahui perasaan saya. Dan Lintang pun tahu, saya pernah sangat dekat dengan Meteor. Lintang hanya senyum-senyum usil di angkot itu. Hanya dalam waktu 1 menit, sayapun sampai di Plaza Andalas.

Sampai di pintu masuk Plaza Andalas, rasanya masih seperti mimpi. Ya, mimpi. Saya selalu berdoa dalam hati kecil saya agar saya bisa dipertemukan dengannya. Agar saya bisa melihat keadaannya. Agar saya bisa melihat senyumnya. Agar saya tahu bahwa dia baik2 saja. Agar saya tahu dia bahagia. Tapi… kenapa Tuhan hanya berikan saya waktu 3 menit? Kenapa begitu sebentar?
Tapi sudahlah, saya bersyukur sudah pernah diberi kesempatan bertemu dia. Dan dia tidak berubah. Masih sederhana seperti dulu. Masih suka naik angkot dan jalan kaki seperti dulu. Padahal, saya tahu betul apa jabatan dia sekarang di kantornya. Saya tahu jabatan itu cukup prestisius. Dan saya tahu sekali dengan jabatan itu, dia mampu membeli kendaraan (setidaknya) roda dua untuk dirinya sendiri. Tapi, dia stay humble seperti yang saya kenal dulu. Dan selera berpakaiannya pun tidak banyak berubah. Masih dengan kemeja lengan pendek (hanya kali ini beda warna) ya, dia memakai kemeja hitam kotak-kotak berlengan pendek. Dan senyum itu, tidak berubah. Tidak ada yang berubah dari dirinya. Bahkan model rambut-pun dari zaman kuliah tidak berubah.

Jujur, ada sebenarnya yang tidak saya suka dari dia. Tapi ketika melihatnya, hilang sudah semua rasa tidak suka saya dengan dia. Semua berganti rasa rindu. Rindu ingin bertemu. Rindu untuk berbicara dan bertanya kabar. Itu saja. Rindu dengan semua ke-normal-an saya dan dia dulu. Rindu mendengar dia bercerita tentang mimpinya. Tapi, jangan salah mengartikan, rindu saya ini bukanlah cinta. Setidaknya begitu menurut hati dan nalar saya. Saya hanya rindu.

Saya tidak mau membahas tentang rasa rindu itu. Tapi satu hal, saya lega mengetahui dia baik-baik saja. Saya lega mengetahui dia sehat walafiat. Tidak sering sakit lagi seperti dulu. Tuhan, apapun itu, terimakasih sudah menjaga orang-orang yang pernah dan sedang saya sayangi. Terimakasih sudah menjaga Malik, terimakasih sudah menjaga Yudi dan memberikan dia keberkahan dengan menikahi sahabat saya, terimakasih sudah menjaga Bang Daus dan keluarga kecilnya, terimakasih sudah menjaga Meteor… Semuanya orang-orang yang pernah saya sayang. Dan saya tidak akan pernah lupa itu. Merekalah yang pernah memberikan senang dan sedih di hidup saya dahulu. Mereka mengajarkan banyak hal baik pada saya.
Dan Tuhan… ini adalah doa saya selalu, setiap hari, tolong jaga juga Matahari untuk saya. Dia orang yang saya sayangi untuk sekarang ini. Walaupun dia terkadang tidak bisa saya mengerti apa maunya. Tapi saya menerima itu. Saya tidak mau memaksakan dia. Biarlah waktu yang menjawab. Yang penting, jaga dia untuk saya, Tuhan.

Girls, apapun itu, walaupun masa lalu telah lewat, namun biarkan dia sesekali menghampirimu. Biarkan dia sesekali memberikan keindahan pada hatimu. Biarkan dia sesekali datang dan membawa semua kenangan lama itu.
Hari ini, detik ini saya bahagia. Saya bahagia bisa menyayangi orang lain. Dan kepada semua orang yang sedang mencinta, yang sedang mengalami perasaan bahagia, nikmati itu. Karena cinta, sayang, rindu semuanya merupakan hal yang luar biasa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s