My Favorite Love-Letter; “Masihkah Fai?”

Salah satu cerita favorit-ku, yang terdapat di novel “Kepada Cinta, True Love Keeps No Secret”. Dan ini karangan Riri Sardjono. Im in love with this love-letter! And this is the cover of the book!!! Di dalamnya banyak surat2 cinta gitu, and everything is GREAAAT!!! 😉

Hai Fai,

Apa kabar?

Apa kamu masih terjebak dalam dilemma lebih baik tidak menikah daripada menikah tanpa cinta?

Walaupun kamu ngerasa nyaman banget dengan seseorang, bersamaan dengan itu kamu juga meragukan kadar cinta yang kamu miliki?

Kenapa Fai?

Kenapa kamu bisa memiliki perasaan nyaman tanpa mampu menumbuhan cinta?

Fai,

Kenapa kamu ngga pernah mau bercermin dari aku?

Aku adalah contoh hidup dari dilemma yang sedang kamu hadapi.

Berbeda dengan kamu, saat memutuskan pacaran, aku hanya bermodalkan rasa suka

Kemudian aku memutuskan untuk menikah dengan modal logika

Kamu tahu itu kan Fai?

Tapi, apa kamu tahu kalau perasaan nyaman yang aku rasakanlah yang menjadi salah satu hal logis yang menurutku perlu aku pertimbangkan

Kenapa?

Nggak tau Fai

Tapi saat itu aku berfikir bahwa cinta yang menggebu – gebu bisa membutakan,

Tapi perasaan yang nyaman adalah pupuk cinta itu sendiri

Tapi,

Semakin dekat dengan hari pernikahan, aku malah semakin sering mendengar orang melontarkan ucapan seperti ini: “Emang enak kawin?” atau “Nikmati masa bulan madu kamu, karena setelah itu….. welcome to the hell. Apalagi kalau kamu langsung hamil.” Dan yang paling seram adalah pernyataan mbak Ami yang bilang “Gue menjalani pernikahan gue, bukan menikmatinya”

Menjalani Fai,

Seolah olah pernikahan hanya memberikan dua pilihan bagi kita: bercerai atau terpaksa menjalaninya.

Apalagi kalau keburu punya anak.

Fai,

Waktu itu aku takut banget. Aku piker ngapain terikat dalam sebuah hubungan seumur hidup kalau kita ngga bisa menikmatinya? Menurut aku itu adalah bentuk lain dari bunuh diri.

Tapi beberapa orang bilang “That’s life, dear”

Yup. Fai,.. that’s life

Dan aku mau enjoying my life

Apa itu mungkin terjadi dalam pernikahan, Fai?

Atau pertanyaan yang lebih tepat adalah,

Apakah pernikahan bisa dijadikan media untuk menemukan kebahagiaan?

Mungkin.

Kalau ngga, kenapa hampir seluruh penduduk bumi kawin?

Atau, sebenarnya manusia sebegitu bodohnya

Hingga dengan sadar membiarkan dirinya masuk ke dalam perangkap yang sejak zaman nenek moyang telah diketahui sebagai penjara hidup.

Apalagi untuk kaumku, Fai.

Perempuan..

Hmmm..

Kayaknya aku tahu apa yang timbul dalam kepala kamu saat membaca dua paragaraf terakhir daru tulisanku diatas. Sebuah pertanyaan. Kenapa aku tetap memutuskan untuk menikah?

Jawabannya simple, Fai.

Karena aku ngga punya nyali untuk membatalkan sebuah rencana yang melibatkan semua orang yang berkuasa mengeluarkan aku dari daftar silsilah keluarga dengan alasan: TELAH MENCORENG NAMA BAIK KELUARGA.

Well, runaway bride Cuma bisa terjadi di Amerika, kan, Fai?

Jadi…

Kalau rasa nyaman, bibit, dan bobot adalah pertimbangan logis pada awalnya, kesadaran akan efek dari tindakan membatalkan pernikahan menjadi pertimbangan logis berikutnya.

So,

Here I am, Fai

Dengan sadar aku telah mengubah status diriku di KTP

Dari lajang menjadi kawin.

Dan, aku mulai menyiapkan diriku untuk masuk ke dalam fase membosankan dalam hidupku, Fai.

Menjadi seorang istri.

Seperti nasihat mbak Ami, aku pun berusaha meyakini diriku untuk menjalaninya.

Bukan menikmatinya.

“Nggak usah muluk – muluk.” Begitu saran tambahan yang dilontarkan Mbak Ami. “Udah bagus ngga cerai atau jadi kekerasan dalam rumah tangga”

Anyway…

Aku menikah berdasarkan logika kan?

Tapi, ternyata, dalam perjalanannya, aku menemukan sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, Fai.

Bahwa:

I’m in love with my husband.. saat menyadari kalau beberapa kali dia telah ngebiarin aku tetap tidur saat dia sudah bangun pagi. Dia cuci muka, terus bikinin aku teh hangat.

I’m in love with my husband.. saat aku lagi masak dan tanpa bertanya dia langsung ngambil beras, mencucinya dan masak nasi di rice cooker.

I’m in love with my husband.. saat aku yang ngga bisa masak tetap ngotot masak buat dia. Aku mencoba masak dengan bahan instan, seperti sosis, chicken nugget, daging asap, kentang goreng, mi instan, bahkan sup asparagus, yang tinggal dicemplung di air mendidih.

Kemudian dia komentar “Aku senang makan kenyang, tapi istriku ngga usah capek. Ternyata orang bule emang pintar, ya. Mereka nyiapin masakan siap saji dan siap diangetin doing. Soalnya aku butuh istri bukan cuma buat masak doang”

I’m in love with my husband.. saat pagi sebelum berangkat kerja dia bilang, “Biar aku yang nyuci jeans dan semua pakaian yang berat. Kamu nyuci yang ringan – ringan saja ya..”

I’m in love with my husband.. karena setiap akhir bulan dia transfer semua gajinya ke rekeningku dan bilang “Aku tuh, boros banget. Makanya kamu yang ngatur keuangan kita, ya.” Dan saat aku tunjukkan jumlah uang tabungan di bank, dia langsung tertegun dan bertanya, “Kamu nabung sebanyak ini?” Raut mukanya terlihat sedih saat dia bilang, “Kamu boleh kok belanja, beli baju atau ngapain. Jangan hanya dipakai buat kebutuhan sehari – hari. Aku kan senang kalo bisa ngebeliin barang – barang yang kamu suka..”

I’m in love with my husband.. saat dia ngajak aku beli ponsel baru, tapi aku tolak dengan alasan baru membeli lap top dan itu berarti tabungan berkurang. Terus dia bilang, “Aku sedih ngga bisa beliin istriku ponsel yang mahal”

I’m in love with my husband.. saat beberapa orang pria dekat rumah sempat gangguin aku, reaksi dia adalah mencari orang keamanan kompleks dan bilang “Gue ngga mau ada siapun yang ganggu istri gue. Kalo elo ngga bisa menyelesaikan ini dengan cara lo, gue akan menyelesaikan ini dengan cara gue”

I’m in love with my husband.. saat aku melihat hasil test pack-ku yang kesejuta kalinya dan berkata “gagal lagi deh hamil..” Dia ketawa sambil ngejitak kepalaku, kemudian bilang “Kita coba buat anak lagi yuk?”

I’m in love with my husband… and I want to continue in love with him in many ways..

Fai,

Rasa nyaman itu sudah berubah menjadi rasa cinta!

Padahal suamiku ngga pernah ngasi candle light dinner,

Atau ngasih aku bunga,

Atau ngasih aku puisi cinta,

Atau ngasih aku kartu valentine yang romantis,

Atau ngasih aku berlian,

Atau ngasih aku surprise dengan ngajak nonton opera,

Dia cuman bikinin aku teh,

Nyuci celana jeans,

Nyuci beras,

Atau percayain uangnya ke aku

Tapi kata Mbak Ami, “Jelas aja. Elo kan baru kawin dua tahun. Coba deh kalo udah kawin selama lima tahun. Gue pengen denger komentar lo.”

Fai,

Masa sih, suamiku ngga mau bikinin aku teh setelah lima tahun?

Masa sih, suamiku ngga mau nyuci jeans setelah lima tahun?

Masa sih, suamiku ngga percayain uangnya ke aku lagi setelah lima tahun?

Atau

Masa sih aku ngga bisa menghargai hal – hal kecil yang dia lakukan setelah lima tahun?

Marriages maybe made in heaven

But a lot of the details have to be worked out here on earth

Dan di bumi,

Segalanya adalah sesuatu yang nyata Fai,

Bahkan cinta.

Seperti dialog Meryl Streep dalam salah satu adegan film Prime. “Love is work”

Perlu sebuah usaha untuk mencintai

Perlu sebuah usaha untuk merasa jatuh cinta

Perlu sebuah usaha untuk bisa dicintai

Tapi menurutku yang paling penting adalah, perlu sebuah usaha untuk menghargai

So, apa sih cinta?

Kamu bisa mengartikan cinta dengan apa saja, Fai.

Tapi satu hal yang harus kamu sadari, cinta bisa datang dari hal yang sangat sederhana

Bagiku, cinta adalah… when your man looks at you as a person

Not a partner, not a wife, not a mother of his child, not even a woman

But as a person

Kalau kita melihat seseorang sebagai “seseorang” itu berarti kita akan member penghargaan akan segala perbedaan yang ada diantara diri kita dan dirinya.

Fai,

Aku menikah tanpa cinta. Tapi, dalam perjalanannya, suamiku telah berhasil membuatku jatuh cinta, karena aku merasa dicintai

Karena aku merasa dibiarkan menjadi diriku yang berbeda dengan dirinya

Karena aku merasa dia menghargai, bahkan untuk sekobokan beras yang aku cuci untuknya

Fai,

Apakah aku ngga bisa membuat suamiku jatuh cinta denganku karena dia merasa dicintai?

Karena dia merasa diberi ruang, bahkan untuk meragukan perasaannya untukku?

Karena aku menghargai dirinya yang merasa nyaman denganku dan hanya merasa nyaman?

Fai,

Mungkin, sesekali, kamu harus mencoba untuk berhenti melogikakan cinta.

Mungkin, sebaiknya, kamu belajar untuk menikmatinya saja.

Dan terutama, membiarkannya datang menyapa hatimu.

Seperti yang aku lakukan selama dua tahun ini dalam perjalanan perkawinan kita…

Happy anniversary, Faizan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s