Bagaimana Jika Direndahkan?!

Assalamualaikum

Saya hanya ingin berbagi sedikit kesedihan saya. Kesedihan yang jujur saya bahkan tak sanggup memikirkan sendiri. Bukan masalah hati. Sama sekali bukan itu. Ini masalah pendidikan… kemudian karir… Yah, semacam itulah 🙂
Hhmm… Saya sebenarnya awalnya kaget, sempat agak sakit hati juga mendengar itu… Tapi saya mencoba berpositive thinking saja. Mungkin karena dia tidak senang pada saya, atau bahkan iri dengan apa yang saya punya, sehingga tidak bisa memakai cara lain untuk menjatuhkan saya selain MENGHINA dan MERENDAHKAN saya. Fuhht… Jujur saya tidak menyangka bahwa sebegitunya dia menilai saya dan latar belakang pendidikan saya. Marahkah saya padanya? Saya tidak tahu… Karena walau bagaimanapun, dia tetap telah saya anggap sebagai kakak saya… Tapi mungkin saya akan sedikit mengurangi intensitas saya untuk bergaul dengannya.

Jadi begini, anggap saja namanya X… X bilang ke saya bahwa jurusan saya waktu S2 yaitu INRM (Integrated Natural Resources Management) adalah:

  • Jurusan khayalan Prof. Helmi
  • Jurusan yang geje (gak jelas)
  • Jurusan yang modal casciscus English doang
  • Jurusan yang ga matching sama formasi CPNS

Sangat ekstrim sekali ya… Hehe saya saja yang baca dan mendengar itu jadi sangat shock! Tak perlu saya tanggapi. Tapi cukup tahu saja, yang bicara seperti itu adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Universitas Andalas. Ya, seorang PNS, di bagian administrasi bukan di staf pengajar. Andaikan saya berada di dekat dia saat ini, mungkin saya akan melabrak dia, mungkin saya akan tampar dia, mungkin saya akan maki2 dia, atau bahkan saya mungkin akan bilang dengan kejam “urus se urusan kau!”. Tapi saya rasa itu semua tidak ada gunanya. Jika saya seperti itu, apakah kata2 seperti itu akan dia tarik kembali? Entahlah…

Apapun yang dia ungkapkan tentang INRM, saya tetap bangga menjadi bagian dari keluarga besar INRM… Berjuta alasan kenapa saya bangga dengan latar belakang INRM saya…

  • Saya dari keluarga biasa2 saja, dan tidak mudah bagi saya untuk melanjutkan s2. Tahun 2007, ketika saya tamat dari Fakultas Hukum Universitas Andalas dengan predikat cum laude (karena saya menyelesaikan study dengan cepat yaitu 3,5 tahun) saya langsung berkeinginan untuk melanjutkan kuliah. Pada waktu itu, saya mencoba tes Magister Hukum di Universitas Andalas dan mencoba tes pada jurusan INRM (yang waktu itu memberikan beasiswa penuh pada calon mahasiswanya). Saya lulus ujian MH, dan saya juga lulus ujian beasiswa INRM. Karena waktu itu saya tidak mau merepotkan orang tua, karena biaya sekolah s2 yang cukup besar, saya memutuskan untuk mengambil beasiswa program INRM (Integrated Natural Resources Management), yang kebetulan disupport oleh Ford Foundation dan memberikan beasiswa penuh untuk full study 2 tahun. Walaupun tidak linear, tapi saya ambil resiko itu, karena saya berpikir, asalkan beasiswa saya ambil. Saya senang dan bangga sekali dengan kuliah S2 beasiswa saya. Itu pikir saya ketika pertama kali jadi mahasiswa di INRM dengan nomor BP 07216003. Nanti akan saya ceritakan secara detail apa itu INRM.
  • Saya belajar banyak hal di INRM, dan itu tidak mungkin saya dapatkan jika saya kuliah di MH. Saya belajar tentang ilmu baru yang belum pernah saya temui sebelumnya di INRM. Saya mempelajari Manajemen Sumber Daya Alam secara luas, lalu saya mempelajari tentang prinsip ekonomi, ekologi, konsep dan prinsip manajemen sumber daya alam, spatial analysis (saya belajar membuat peta juga! tapi secara digital), saya belajar tentang pluralisme hukum, metode kualitatif,  perkembangan sumber daya alam dan konservasi, lalu yang paling berkesan saya belajar tentang gender (yang kemudian membawa saya untuk terbang keluar negeri). Banyak hal. Banyak sekali… Ilmu yang saya rasa semua hanya berputar2 tentang perdata, pidana, HTN, HAN, dan hukum internasional ternyata tidak cukup. Banyak hal di dunia ini dan di lingkup ilmu pengetahuan yang menarik untuk dibahas. Dan tidak mudah bagi saya yang nota bene orang sosial murni, lalu saya lari ke ilmu science. Saya harus belajar tentang ilmu pengetahuan alam, bahkan statistik yang pada awalnya saya benar2 buta. Hanya saya dan Sang Pencipta yang tahu bagaimana perjuangan saya kuliah di INRM.
  • Saya belajar dengan dosen dari Thailand, India dan Inggris di program INRM. Yap, saya mendapatkan pengalaman itu. Saya mulai membangun networking dengan dosen2 itu. Ada DR. Bernadette Resurreccion dari AIT Thailand, ada DR. Rebecca Elmhirst dari University of Brighton, dan ada DR. Anjali Baht dari India (saya lupa universitas beliau apa). Semuanya berkesan. Mereka semua membuka khasanah baru dalam alur berpikir saya. Dan saya tidak merasa sedikitpun “MERUGI” masuk ke INRM.
  • Saya mendapatkan beasiswa penuh dari EU-Asialink Project untuk study tentang Gender di Thailand. Saya termasuk mahasiswa yang beruntung, yang bisa mendapatkan beasiswa penuh dari EU-Asialink Project. Beasiswa ini berbeda dengan yang diberikan oleh Ford Foundation. Jadi selama rentang waktu 2007-2010 saya mendapatkan 2 jenis beasiswa berbeda dari 2 donor berbeda. Betapa bersyukurnya saya. Alhamdulillah… Agustus 2009, saya berangkat ke AIT, Thailand. Saya merasakan hidup di luar negeri yang masyarakatnya sangat plural. Jangan berpikir bahwa saya hidup dan belajar dengan orang Thailand asli. TIDAK! AIT Thailand, merupakan kampus skala internasional, dimana mahasiswanya datang dari berbagai negara, baik di Asia, Eropa, Afrika, bahkan benua lainnya. Saya punya teman2 dari Myanmar, Perancis bahkan dari Nigeria. Dan ke-pluralisme-an itu mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar hidup mandiri, belajar menghargai orang lain, belajar bersikap rendah hati dan banyak lagi pelajaran hidup yang saya dapatkan ketika saya kuliah di AIT, Thailand.
  • Bobot perkuliahan di INRM dan gender TIDAK AKAN PERNAH SAMA dengan kuliah s2 manapun di dalam negeri. Maaf mungkin saya agak sedikit keras atau bahkan kasar, atau mungkin mendeskreditkan beberapa pihak. Saya mohon maaf sebelumnya. Tapi itu yang saya rasakan. Bobot perkuliahan INRM (di Indonesia) ditambah dengan bobot perkuliahan Gender (di Thailand) sangat jauuuh… lebih sulit dari kuliah s2 di dalam negeri. Tugas yang betul2 banyak dan membuat kepala pecah, paper dan analisa yang sedemikian banyaknya, presentasi yang luar biasa seringnya, field-trip yang selalu ada, suasana belajar yang sangat kompetitif (karena orang2 yang ada didalamnya benar2 orang pilihan) dan yang pasti, tanggung jawab mengerjakan sebuah karya ilmiah berbahasa Inggris untuk tugas akhir yang dinamakan Thesis. Kebayang? Mengerjakan thesis dalam Bahasa Indonesia saja sulit, bagaimana dengan Bahasa Inggris? Dan semua itu membuat saya menyelesaikan kuliah s2 saya dengan rentang waktu yang lebih dari 2 tahun. Yap, saya tidak bisa menyelesaikan tepat waktu dikarenakan ilmu INRM n Gender ini sangat baru bagi saya, dan cukup kompleks. Bayangkan, seorang sarjana hukum ke lapangan untuk ambil data, memberikan kuisioner, menganalisa, lalu menginput data ke dalam rumusan statistik. Tentu saja hal ini membuat saya ‘kagok’. Tapi akhirnya saya bisa menyelesaikan semua dengan baik dan nilai ujian kompre saya A, dengan IPK diatas 3,5. Alhamdulillah 😉
  • Lulusan INRM bisa bekerja di SEMUA BIDANG, jika benar2 ingin mengaplikasikan ilmunya. Saya tamatan INRM dan saya ‘laku’ di semua bidang. Saya pernah kerja untuk lembaga lokal sampai lembaga sekelas United Nations. Saya pernah bekerja mulai dari jadi seorang Instruktur Bahasa Inggris sampai jadi Program Manager sebuah NGO. Saya bisa bekerja di bidang hukum dan peradilan anak, sampai bekerja di bidang manajemen bencana. Dan yang pasti, saya bisa bepergian ke berbagai macam tempat baik kota/kabupaten/provinsi bahkan negara lain. Dan itu tidak akan didapatkan oleh seorang PNS sekelas X… Maaf untuk mengatakan hal seperti ini, tapi itulah kenyataannya… Saya tidak bermaksud kasar, tapi X yang meinginkan saya untuk bersikap demikian. Jika saya bisa sangat fleksibel, maka tidak dengan X. Silahkan mengurus surat2 (alias dokumen2 alias “CRAFTMANSHIP” kalau kata Prof. Helmi) sampai tua, X! Saya bukan manusia konstan seperti anda…

Itu INRM, ilmu s2 saya… Memang di dalam negeri (di Indonesia), pengakuan terhadap ilmu ini masih baru. Tapi kalau kita buka website kampus2 di luar negeri, seperti di University of Queensland di Australia, University of Bremen di Jerman, University of Bern di Switzerland dan lain lain, maka akan kita temukan banyak sekali course untuk Master dan Ph.D di bidang ini. Jadi sekali lagi, untuk X… INRM itu bukan ilmu yang geje! Lulusan INRM bukan ditakdirkan untuk menjadi abdi negara. Lulusan INRM dituntut untuk menghadirkan inovasi, bukan patuh pada satu komando yang bobrok! Jadi, jangan samakan saya dengan anda, X! Mari sama2 kita lihat beberapa tahun ke depan, siapa yang akan konstan bertahan pada posisi itu2 juga, dan siapa yang akan terus melaju ke depan. Ini bukan ambisi, hanya sebuah ajang untuk membuktikan kapasitas diri dan (maaf!) kapasitas otak. Kalaupun saya bukan PNS saat ini, tidak masalah bagi saya. Setidaknya, saya tidak akan terperangkap dalam sebuah lingkaran ‘setan’ yang namanya kerja monoton.

Marahkah saya pada X? Jawabnya saya tidak tahu… tapi saya tahu satu hal, saya jadi makin terpacu untuk sukses, makin terpacu untuk semakin maju. Saya yakin, dari semua aplikasi beasiswa yang saya masukkan, baik itu di Australia, Thailand maupun Switzerland, akan ada salah satu nantinya yang akan menjadi milik saya. Apapun itu… Dan X, saya tidak sabar untuk menunjukkan kepada anda, apa itu ilmu INRM… Bukan untuk mencemooh anda, tapi hanya untuk membuat anda sadar bahwa apa yang anda pikirkan tidak sejelek itu. Saya bangga menjadi lulusan INRM. Saya bangga pernah membahas tentang gender. Saya bangga menjadi dosen tetap di salah satu universitas swasta. Saya bangga sudah bergolongan III B. Saya bangga jadi dosen Kopertis. Saya bangga menjadi peneliti. Saya bangga dengan posisi saya sekarang. Apa yang saya lakukan bermanfaat bagi orang banyak. Tidak sama seperti anda, yang bisanya cuma ‘merendahkan’ ilmu orang lain. X… saat ini, rasa respect saya ke anda sudah jatuh ke level terbawah. Walaupun saya pernah bekerjasama dengan institusi anda hanya sebagai tenaga honorer, tapi suatu saat akan saya buktikan kepada anda, siapa saya sebenarnya. Kita tunggu saja waktu itu tiba…

Advertisements

One thought on “Bagaimana Jika Direndahkan?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s