Analogi Matahari dan Meteor

MATAHARI

 Matahari itu selalu menghangatkan aku.
Selalu ada saat aku butuh.
Walau aku pernah menghilang dan menghindar dari sinarnya, tapi Matahari tak pernah murka.
Matahari selalu setia disana, dengan sinarnya, dengan kehangatannya.
Ketika aku sedang diguyur hujan pun, Matahari pun selalu menghangatkanku dari kisi-kisi jendela kamarku.
Matahari tidak berubah.
Dia tetaplah yang kubutuhkan.
Dia tetap menjadi teman paling setia untuk mencurahkan isi hati.
Matahari tempatku tertawa lepas, Matahari tempatku berkeluh kesah, Matahari tempatku menumpahkan kesedihan dan Matahari tempatku untuk berdebat dan yang pasti bertukar pendapat.
Aku pernah berujar, Matahari jangan pergi…
Matahari jangan tinggalkan aku.
Aku egois pada Matahari.
Sangat.
Aku tahu aku tidak boleh begitu.
Tapi…
Aku sayang Matahari.
Aku tidak mau Matahari pergi.

METEOR

 Meteor…
Tak banyak kata untuk mendeskripsikan Meteor.
Meteor itu datang dan pergi.
Meteor datang sesekali.
Kehadirannya selalu mendatangkan kesan.
Entah kesan apa.
Apakah bahagia, apakah luka?
Aku tak tahu…
Meteor terkadang memperlakukanku semena-mena.
Tapi dia selalu siap dengan permohonan maafnya, jika aku terluka.
Meteor…
Dia berjanji akan datang, berjanji akan pulang.
Berjanji tak akan meninggalkan…
Kenapa setiap kali aku ditinggalkan aku selalu bisa memaafkan Meteor?
Apa ini rasa sayang, apa ini rasa cinta?
Entahlah…
Yang kutahu, akupun sayang Meteor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s