Filosofi ‘Kompor’ Dalam Sebuah Hubungan

Assalamualaikum…

Uhm, sebelumnya saya mau memberi tahu, postingan ini sengaja saya buat dalam Bahasa Indonesia, agar teman2 semua bisa membaca dan benar2 dapat memahaminya dengan baik (karena terkadang menggunakan Bahasa Indonesia kelihatan dan ‘terbaca’ lebih ekspresif, bukan? Hehehe)
Okay, saya ceritakan sesuatu yang baru saja saya alami tadi siang…

Tadi siang, sehabis dari kampus (Universitas Andalas – red). Saya memutuskan untuk mencari buku ke Gramedia. Sudah sebulan lebih saya tidak kesana. Terakhir saya kesana adalah 12 Februari, dimana saya bertangisan di depan rak buku dengan seorang pria yang saya sendiripun sudah tak mau mengenangnya sekarang…
Ketika sampai disana, awalnya saya menuju lantai 3 langsung, karena saya berniat hendak mencari buku dongeng anak-anak. Saya mencari buku dongeng untuk mengajarkan adik2 saya ‘story telling’ dalam Bahasa Inggris. Tapi saya tidak menemukan buku dongeng yang cocok. Jadi setelah cukup lama muter2 di lantai 3, saya memutuskan turun ke lantai 2 mencari buku yang lebih sesuai dengan ‘usia’ matang saya.

Di lantai 2…

Turun ke lantai 2, saya langsung menuju deretan buku ‘best seller’ yang di display pas ‘central-area’ nya… Lalu saya lihat dan amati satu per satu buku yang di display disana. Ada buku tentang motivasi (well, sejak zaman makin susah dan Mario Teguh muncul memberikan acara motivasi di tv, makin banyak saja terbit buku serupa), ada juga buku tentangΒ entrepreneurshipΒ (secaraΒ entrepreneurship juga sedang kencang2nya di-blow up sekarang), lalu ada buku tentang psikologi yang seperti biasa meliputi percintaan, pernikahan, dll… Jalan sedikit menuju rak yang mendisplay buku2 sastra, saya melihat ada buku sejarah tentang Bung Karno yang nyelip disana. Buku itu tentang kisah cinta Bung Karno dengan Heldy Djafar. Uhm, menarik pikir saya. Kemudian saya membaca buku itu dan sedikit kaget. Haha bagaimana tidak, Heldy Djafar adalah wanita terakhir yang dinikahi Bung Karno, dimana terpaut usia 47 tahun diantara mereka berdua (fyi, saat dinikahi Bung Karno umur Heldy Djafar masih 16 tahun). Kebayang dong menikah dengan pria yang lebih tua 47 tahun dengan kita? Uhfftt… Tapi ya sudahlah, itu kan sebuah memoar yang dinarasikan kembali. Kita sebagai pembaca tidak berhak men-judge-nya. Apalagi pembaca yang cuma ‘nebeng’ seperti saya. Hahaha…

Lanjut, setelah habis membaca buku itu, saya beralih membaca buku yang judulnya (kalo tidak salah) “Mimpi Satu Juta Dollar”, yang ternyata merupakan narasi sekaligus biografi dari seorang entrepreneur sukses bernama Merry Riana yang tinggal di Singapura (fyi, Merry Riana merupakan orang Indonesia yang bekerja dan sekarang menetap di Singapura). Inti dari buku itu sebenarnya tentang kisah Merry Riana ‘survive’ di negeri orang, sampai akhirnya dia bisa menaklukkan kerasnya dunia dan menjadi salah satu motivator paling sukses bukan hanya di Indonesia tapi juga di Asia Tenggara. Sangat inspiratif dan saya suka bukunya. Hehe… πŸ˜‰ Untuk yang penasaran boleh lihat di Gramedia terdekat loh… (jadi promosi deh!)

Selesai membaca buku itu, saya kemudian berkeliling lagi. Mencari buku yang benar2 ‘pas’ dan ‘sesuai’ dengan kebutuhan jiwa saya. Kemudian saya berhenti tepat di rak buku yang banyak mendisplay buku2 tentang (uhm, let say) pernikahan. Well, tidak semua yang di-display melulu tentang itu sih, ada juga tentang relationship alias pacaran. Dan saya rasa semua wanita (termasuk saya!) yang berkunjung ke Gramedia, pasti pernah “mencuri pandang” atau bahkan lebih dari sekedar itu untuk mengetahui judul dan sedikit membaca resensi buku2 disana. Hehe hayo ngakuuu!!! Mata saya lalu tertuju pada satu buku, bercover ungu, yang saya (jujur!) saking cover-nya demikian menarik, saya tidak baca judul bukunya. Lalu saya balik buku itu, saya baca cover belakangnya. Rupanya tentang perempuan, pernikahan dan tuntutan lingkungan. Dan kebetulan ada stok buku yang sampul plastiknya sudah dibuka. Alhamdulillah, pikir saya… Saya bisa baca bukunya.

Kisah buku bersampul ungu…

Buku itu cukup padat, ‘mengigit’ narasinya dan yang pasti ‘ngena’ banget untuk para2 wanita karir zaman sekarang. Β Buku itu menitikberatkan pada tiga topik utama (yang dari zaman dahulu sampai sekarang masih ekssiiissss… aja!) yaitu perempuan dan pernikahan! Haha dari topiknya aja udah berat! Yap… inti sari dari buku itu adalah;

Bagaimana ketika bumi berputar, waktu bergulir, bahkan usia bertambah, perempuan tetap saja menjadi salah seorang subjek utama di dalam masyarakat, yang masyarakat itu nota-bene-nya selalu menuntut adanya suatu “azas kepatutan”. Azas kepatutan disini apalagi kalau bukan, perempuan harus menjadi seorang istri yang baik, ibu yang baik, dan tentu saja pada akhirnya wanita yang baik untuk keluarganya hingga hari tua… Jujur saya setuju… Karena secara kodratinya memang begitu. Tapi kalimat2 kontradiktif di buku tersebut membuat saya semakin tergelitik untuk membacanya terus dan terus. Lanjut ke halaman 31 dari buku bersampul ungu itu, ada ‘filosofi’ kompor. Otomatis saya tergelak dalam hati, “filosofi kompor, lucu juga”, gumam saya… Saya baca halaman itu, disitu diceritakan bahwa dalam suatu hubungan, baik itu pacaran ataupun pernikahan haruslah mengutamakan ‘komunikasi’. Ya… cinta diibaratkan dengan kompor. Pasti teman2 semua tau kompor bukan? Jangan bayangkan kompor gas dengan tabung gas berwarna hijau 3 kilo atau tabung gas biru elpiji yang besar itu ya… Yang dimaksud disini adalah kompor lama yang dipakai pada era 80an dan 90an… Jauh sebelum kompor gas booming seperti sekarang.
Sudah terbayang bentuk kompor itu? Kompor seperti itu untuk menyala dan bisa dipergunakan membutuhkan minyak tanah, sumbu, dan tentu saja korek api. Jika benda2 yang saya sebut tadi tidak ada, maka jangan harap kompor itu akan bisa dipergunakan. Kompor hanya akan menjadi barang rongsokan dan ‘useless’. Uhm, betapa pentingnya peranan benda2 kecil seperti minyak tanah, sumbu dan korek api tadi.
Nah, begitu juga dalam suatu hubungan. Jika kompor tadi dianalogikan sebagai cinta. Hehe saya tahu kesannya kok absurd sekali menganalogikan cinta seperti itu… πŸ˜‰ Cinta itu adalah abstrak. Dan jika cinta tidak dilengkapi dengan instrumen penting seperti komunikasi (ini paling penting loh!), kepercayaan, perhatian, dan lain2, maka cinta akan NOL BESAR! alias BULL SHIT! Heks! Seketika itu juga saya menelan ludah, dan membenarkan narasi yang dipaparkan di halaman itu. Benar sekali… Untuk apa bilang cinta sampai mampus kalau tidak terjalin komunikasi yang hangat, tidak ada rasa saling percaya, dan parahnya tidak ada bentuk perhatian! Ckckckc… Saya bahkan membaca halaman itu sampai 3x… Hahaha saking saya benar2 ingin memahami kata per katanya…

Setelah saya habis membaca buku itu saya senyum2 sendiri dan merasa puas karena sudah memperkaya khasanah ilmu dan hati saya. Yah, walau akhirnya saya tidak beli buku itu (karena harganya diatas 100 ribu hehe) tapi saya bisa menangkap inti sari dari ceritanya. Hei, tapi tidak berarti saya cuma numpang baca tanpa membeli loh ya… Saya membeli buku “Hukum Penyelesaian Sengketa” untuk saya ajarkan semester ini. Yah, jadi gak malu2 banget lah sama karyawan Gramedianya. Hihihi… Lesson learned dari kisah hari ini, menurut saya apa yang diceritakan di buku tadi benar adanya. Yang namanya hubungan akan teramat sangat hampa tanpa instrumen tadi (komunikasi, kepercayaan, perhatian). So, bagi teman2 yang merasa saat ini kurang mengimplementasikan itu, segeralah memperbaikinya, agar hubungannya kembali lancar. Hehe… Oh iya, karena besok sudah mau jelang weekend, selamat weekend dengan orang tersayang yaaa… πŸ˜‰

Adios!

Advertisements

7 thoughts on “Filosofi ‘Kompor’ Dalam Sebuah Hubungan

  1. mEEnTo March 17, 2012 / 3:17 pm

    kirain lu beli tuh buku -.-“

    • mEEnTo March 17, 2012 / 3:35 pm

      eh..bukunya judulnya apaan sih??

      • miss lengga March 18, 2012 / 12:56 pm

        kagak… gw ga beli tuh buku! krn gw beli buku yg berhubungan sama mata kuliah gw… lagi kere boo… tu buku mahal gila 130 ribuan gituu… judulnya gw lupita,,, saking asik baca gratis hahahakksss πŸ˜›

      • mEEnTo March 23, 2012 / 6:17 pm

        hadeuh…gw kan pengen tau judul tuh buku -.-“

      • miss lengga March 24, 2012 / 1:49 am

        iyee,,,ntr gw ke gramed lagi… ntr gw foto bukunyaa,,,gw tag ke lw

      • mEEnTo March 24, 2012 / 2:38 am

        thankyou miss *kecups :*

  2. miss lengga March 24, 2012 / 2:52 am

    ur most welcome :* *kissykissy*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s