Daddy’s Little Girl ~ Putri Kecilnya Papa

Assalamualaikum…

Postingan ini saya buat ketika saya sudah sampai di Padang. Yah, saya pulang ke Padang kemarin malam (tepatnya Sabtu). Loh? Kok Sabtu malam saya sudah balik ke Padang? Biasanya kan Minggu sore baru balik. Iya sih, benar. Sebenarnya hari Minggu ini, saya harus tetap masuk kampus di UMSB, karena akan mengerjakan instrumen borang untk akreditasi fakultas. Tapi, Mama saya menyuruh saya pulang ke Padang. Walau awalnya saya ragu untuk pulang, tapi saya jadi berpikir lagi, secara sudah dari Rabu malam saya sendirian di kos’an Bukittinggi dan sering ‘merasa’ serem sendiri. (FYI, di kos’an banyak yang pulang ke rumahnya masing2, karena kebanyakan libur semester). Jadilah saya sendirian saat malam hari. Dan adaaa… aja yang bikin serem! Mulai dari yang ngetok2 pintu kamar pas jam 10 malam lewat, dan ada juga bunyi langkah kaki orang. Doh! Kalo dipikir2 luar biasalah ‘spooky’ nya… Hal itu menguatkan saya untuk pulang. Jadilah kemarin sore skitar jam 6 saya berangkat ke Padang.

Di tranex, pinggang saya mulai nyeri lagi… Well, sebenarnya pinggang saya sudah sakit dari seminggu yang lalu, tapi saya mencoba cuek, dan hanya mengoleskan balsem panas ‘geliga’ kesana. Saya berpikir mungkin hanya masuk angin. Karena di Bukittinggi kan dingin, lagian saya sering bolak-balik Padang – Bukittinggi dengan mobil tranex yang AC-nya luar biasa dingin. So, jadi saya masih tetap dengan cueknya mengoleskan geliga. Yap! Saya mengoleskan geliga hampir tiap jam. Di kampus pun, ketika saya duduk di ruangan saya, dalam waktu yang cukup lama, let say 30 menit-an, maka rasa nyerinya sudah mulai ‘nyut…nyut…’ lagi begitu saya ingin berdiri (maksud saya dari duduk ke berdiri) rasanya… tidak bisa saya definisikan perih dan sakitnya. Tapi lagi2, saya cuek. Karena di Bukittinggi tidak ada orang (anak kos) jadi saya tidak bisa mengadu kepada siapa2. Paling saya hanya nge-twit di twitter kalo pinggang saya nyeri. Hehe… Oke, di tranex walau masih nyeri, tapi saya masih bisa menggerakkan pinggang saya. Sampai di Padang, Mama dan Papa sudah telpon dan bilang kalau akan menunggu saya di Gramedia. Jadi, secara tranex berhenti di Ulak Karang, so sayapun nyambung angkot untuk menuju Gramedia. And you know what??? Pas naik angkot, yang nota bene space-nya lebih rendah dan tempat duduk lebih kecil, pinggang saya rasanya kembali nyut-nyut’an… Kali ini luar biasa sakitnya. Bahkan ketika turun angkot di Gramedia, saya (jujur) malu sekali. Karena saya turun angkot dengan perlahan2 dan sedikit beringsut… Pas bayar ongkos pun saya sebenarnya sudah tidak sanggup untuk berdiri. Rasanya pengen nangis dan duduk aja di aspal. Tapi ga mungkin karena orang rame. Lalu, sayapun pindah ke mobil Mama. Pas naik mobil Mama pun, rasanya saya ingin nangis, karena begitu menggerakkan pinggang dan panggul rasanya susah dan sakittt… sekali. Di mobil saya cuma bisa nangis pelan2…

Sampai dirumah, saya turun mobil. Lagi2 dengan susah payah. Dan langsung menuju kamar saya di lantai 2. And you know what??? Bahkan untuk naik tangga saja saya ga bisa. Semua organ tubuh saya dari pinggang ke bawah rasanya sakit sekali. Saya nangis sendirian di tangga. Lebih dari 30 menit saya coba menggerakkan kaki n pinggang saya. Saya gak mau Mama, Papa, Pa Gaek melihat saya sakit n lemah seperti ini. Saya ga mau merepotkan mereka. Lalu saya coba pelan2 naik tangga. Pelan sekali… Walau pelan, keringat saya sudah bercucuran dengan banyaknya. Rasanya sakit, lebih sakit daripada kekecewaan yang saya alami 2 minggu lalu. Hahaha… (masih sempat bercanda). Sampai di kamar, saya bermaksud menukar celana jeans saya dengan celana rumah (celana pendek yang berbahan kaos). Dan tau tidak? Untuk pasang celana saya membutuhkan waktu 1 jam. Itupun memasangnya dalam kondisi berbaring (tidur). Dan tentu saja menahan rasa sakit. Saya merasa sangat lemah. Saya merasa bodoh! Bahkan untuk memasang celana saja saya tidak bisa. Memalukan… Kemudian setelah itu saya coba untuk tidur. Mama dan Papa masih di bawah. Mereka tau saya sedang sakit pinggang dan mood saya sedang jelek, jadi mereka tidak menyuruh saya untuk makan, dll… Mereka biarkan saya istirahat.

Jam 1 malam, saya ingin pipis. Tentu saja saya harus bangun dari tempat tidur dong. Tapi saya tidak bisa bangun sendiri dari tempat tidur. Saya mulai menangis. Saya mulai terisak. Saya minta sama Allah, kalau saya mau pipis, ijinkan saya untuk bergerak. Tapi tidak kunjung bisa. Akhirnya saya tidak tahan. Saya panggil Papa. Papa saya heran. Kenapa saya menangis terisak2. Kemudian saya bilang saya tidak bisa bangun, padahal saya mau pipis. Papa kaget. Kenapa baru sekarang cerita kalau pinggang bagian belakang sakit. Sambil bertanya Papa kemudian menuntun saya untk bangun. Saya bilang saya tidak bisa bangun, ada yang nyeri ketika saya usahakan untuk bangun. Rasanya luar biasa sakit… Papa lalu sambil marah2 mengambil balsem, air putih, dan memijit kaki saya. Papa bilang bagian mana yang sakit, kok bisa sakit, kenapa baru dikatakan sekarang dan lain lain. Papa marah2, tapi tetap memijit kaki dan pinggang saya. Papa membantu saya untuk bangun. Papa bilang saya pasti bisa untuk bangun dan ke kamar mandi sendiri. Saya bilang perih ketika saya hendak berdiri. Lalu papa membantu saya bangun dengan bertumpu pada lengannya. Akhirnya saya bisa bangun dan pipis sendiri walau rasa pinggang ini nyeri luar biasa…

Setelah pipis, saya kemudian disuruh latihan jalan sama Papa, kemudian latihan membungkuk. Jujur, rasanya tidak terkatakan. Sangat perih. Papa (lagi2) bilang, pasti bisa. Lawan rasa sakitnya. Saya tetap menangis dan bilang tidak bisa. Papa kemudian marah2 lagi dan bilang, makanya saya harus banyak konsumsi air putih, dan bla bla bla… Papa marah, saya tahu, tapi dibalik kemarahannya, tersimpan rasa kasih sayang yang luar biasa. Lalu papa bilang, coba untuk tidur, sambil terus minum air aqua yang 1, 5 liter itu. Kata Papa, kalau mau sembuh harus habiskan air itu. Hiks! Kebayang betapa eneg-nya ngabisin air aqua sebanyak itu? Huhu apa daya daripada sakit dan tambah dimarahi, saya minum juga. Kemudian saya coba untuk tidur.

Jam 3, saya ingin pipis lagi (karena kebanyakan minum air). Kali ini (lagi2) saya tidak bisa bangun. Saya panggil Papa lagi. Papa bantu saya berdiri. Kemudian Papa tidak tidur, Papa berjaga2 kalau2 saya perlu sesuatu. Sambil nonton tivi di luar Papa tetap bilang, habiskan air minumnya kalau mau sembuh. Saya hanya bisa menangis sambil terus menahan sakit. Saking luar biasa sakitnya, baju saya jadi basah karena keringat saya yang bercucuran menhan sakit. Seluruh tubuh dan rambut saya basah. Benar2 luar biasa sakitnya… Tapi saya usahakan untuk tidur. Dan saya juga minta sama Allah, ringankan sakit ini, saya tidak mau merepotkan Papa dan Mama. Saya tidak mau mereka jadi sibuk mengurus saya. Saya tahu, Papa dan Mama mulai semakin tua (FYI, Papa saya 51 tahun dan Mama saya 47 tahun). Saya tidak ingin menambah beban mereka. Biarlah saya yang tanggung sendiri penyakit ini. Saya tidak mau mereka khawatir. Tapi karena saya sudah tidak tahan, makanya saya tadi meminta Papa untuk membantu saya. Kemudian saya tertidur jam 5 subuh dan bangun jam 7.30 pagi. Saya coba bangun dari tempat tidur sendiri, walaupun nyerinya masih ada, tapi Alhamdulillah saya bisa. Lalu saya ke kamar mandi. Dan mencoba menghidupkan laptop di ruang tivi. Β Saya tidak mau duduk, duduk membuat pinggang saya sakit. Jadi saya menulis postingan ini sambil berdiri. Dan tau tidak, siapa yang tertidur di ruang tivi? Papa saya. Papa menjaga saya sampai dini hari. Dan sekarang Papa tertidur. Ya ampun, saya merasa sangat bersalah sudah mengganggu siklus tidur Papa saya. Oh ya, Mama tidak tahu kalau semalam masa kritis saya (Mama tidur di lantai 1, kamar Mama dan Papa sebenarnya, tapi Papa tidur di ruang tivi lantai 2 untuk menjaga saya, karena Papa saya panggil ketika saya sakit semalam).

Jujur, saya terharu. Saya selama ini sering menjadi anak pembangkang pada Papa. Walau intensitas membangkang saya sudah kurang sejak saya kuliah dan bekerja, tapi semua kesalahan saya tiba2 muncul dengan jelas di kepala saya. Yah, saya banyak salah sama Papa. Sangat. Saya belum bisa membahagiakan Papa. Saya masih jauh dari kategori anak yang bisa membahagiakan orang tua. Saya sangat berterimakasih pada Papa. Papa adalah Papa terbaik di dunia. Terbaik yang saya miliki. Saya sayang Papa. Dan sampai kapanpun akan tetap jadi putri kecil-nya Papa, walau umur saya sudah mau menginjak 26 tahun. Ya Allah, saya sayang Papa, saya sayang Mama… Keduanya sama2 saya sayang dengan kadar yang sama.Β 

Satu hal yang saya benar2 rasakan tadi malam, ketika kita sakit, yang pertama kali kita ingat adalah Tuhan, lalu orang tua kita. Kita bahkan tidak akan peduli dan tidak ingat dengan pekerjaan dan karir kita, apalagi ingat dengan pria yang kita suka. Itu benar adanya, karena saya yang mengalami. Jujur, ketika saya mengetik postingan ini, pinggang saya masih sangat nyeri. Dari berdiri ke duduk sangatlah susah. Apalagi dari duduk ke tidur. Pokoknya luar biasa sakit. Saya kapok. Saya ingin jaga kesehatan, banyak minum air putih dan tidak mau sok sibuk lagi. Ya Allah, saya ingin sembuh… Bantu saya Ya Allah… Temans, doakan saya ya,,, supaya bisa beraktifitas lagi…

Untuk Papa, postingan ini hanya sedikit dari bukti cinta saya ke Papa. Saya ingin membahagiakan Papa dan Mama melebihi apapun di dunia ini. Pa, Lengga sayang Papa…

Advertisements

2 thoughts on “Daddy’s Little Girl ~ Putri Kecilnya Papa

  1. alenpunya February 27, 2012 / 11:29 am

    Cepat cembuh ngge…
    Kalo udah cembuh, jgn suka membangkakng ma papa lagi yach…
    #peyuk kamuw erat2.. :-*

    • miss lengga February 27, 2012 / 12:50 pm

      hehe iya kak… :’)
      makasi ya kak… doain aku cpt smbuh… aku kangen jalan kaki lagii…
      udah 2 hari bed rest terus, bosen… 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s