Awal Februari Yang Indah

Ya Allah, terimakasih karena telah memperbolehkan saya menikmati satu hari indah di awal Februari, yaitu tanggal 4 Februari 2012…

Hehe… postingan kali ini bernada so feminine yak? Hoho keliatan dari quote diatas… Iya, saya sangat bersyukur pernah mempunyai satu hari indah di hidup saya, tepatnya di awal Februari ini. Hari terindah…hari termanis…hari yang tak’kan terlupakan… sampai kapanpun. Banyak sekali kejadian di hari kemarin yang ‘meng-enrich soul’ saya dan pastinya ‘meaningful’.

Hari kemarin dimulai dengan saya yang bermalas-malasan di Sabtu pagi. Tapi saya dibangunkan oleh Mama, yang kemudian menyuruh saya untuk bangun, kemudian mencuci piring dan memasak ‘jamur crispy’. Hehe…rutinitas seorang perempuan sekali ya. Sesuatu-lah pokoknya. Haha… dan secara pagi itu masih ‘hectic’, jadi saya masih belum berinteraksi dengan dunia luar. Ya… facebook belum saya cek, dan hape saya-pun masih mati. Begitulah kebiasaan saya kalau di Padang. Hape hanya akan hidup ketika semua aktifitas pagi selesai. Uhmm… setelah cuci piring selesai, dilanjutkan dengan masak jamur crispy, minum jus jeruk yang dibuat Mama, kemudian diakhiri dengan menanak nasi sayapun mengambil hape di kamar saya, di lantai dua. Dan secara hape saya juga lowbat dari semalam, saya kemudian men-charge-nya dan menghidupkannya. Ternyata sudah ada 2-3 sms di inbox hape saya, dan otomatis saya pun men-ceknya. Ada 2 sms berisikan hal yang sama, dari pengirim yang sama. Saya tak perlu menyebutkan siapa yang mengirimnya, bukan? Cukup saya dan Tuhan yang tahu soal ini. Hehe… Bunyinya : “Ge.jd bs ktwu hari ini?jam brapa?dmana?” Sms itu datang pada pukul 07.21 dan 08.17. Hoho, sudah dua kali dia mengirim sms, tapi karena hape saya mati, jadi saya baru bisa membacanya sekitar jam 10an. Tapi, sebenarnya, saya bermaksud pergi dengan dia sore hari. Karena siang kemarin saya sebetulnya sudah bikin janji dengan GB untuk ngeliat sahabat saya Nene’ yang baru melahirkan. Dan you know, seperti biasa, sahabat saya selalu nyinyir dan menelpon saya tanpa henti. Haha… saya bilang saya pasti datang, tapi agak terlambat karena saya harus bantu Mama dulu bekerja di rumah. Sahabat-sahabat saya pun bilang oke, dan mereka akan tunggu saya, sampai saya datang. Nah, saya mikir, ada dua janji hari kemarin. Dua-duanya penting. Jadi saya memutuskan untuk mengajak serta “dia” ke klinik tempat sahabat saya melahirkan, toh, “dia” juga sudah kenal dengan sahabat-sahabat saya waktu Ramadhan tahun lalu ketika “dia” jemput saya di Red Bean.

And okay, “dia” janji ke rumah saya untuk jemput jam 12. Tapi ternyata hei ternyata… (seperti biasa) “dia” datang 10 menit lebih awal, dan lagi-lagi “dia” harus menunggu saya yang lelet ini berpakaian. Haha maafkan… and like usual, “dia” duduk di ruko tengah, dan ngobrol dengan Pa’Gaek. Sepupu saya Cindy, memanggil saya dan saya langsung turun ke bawah begitu selesai memasang jilbab. Ketika saya turun, saya melihat dia duduk di kursi itu, tapi…saya tak punya keberanian sedikitpun melihat wajahnya…apalagi matanya… hadoh!!! Ada apa dengan saya? Gugup tak menentu seperti itu? Cih… hellooo!!! Lengga!!! C’monn… hati saya jadi bersuara sendiri. Daripada makin ga menentu, saya langsung ajak dia untuk pergi. Setelah pamitan dengan Pa’Gaek, sayapun meluncur di jalanan dengan “dia” dan motornya. Saya bilang ke “dia”, makan siang-nya dipending sebentar, dan saya mau ke klinik liat sahabat saya. “Dia” setuju saja, dan itu bikin saya jadi semakin ga enak. Huahh… lagi-lagi saya memaksakan keinginan saya. Saya takut telat ketemu sahabat saya, dan “dia” pun memacu motornya. Hampir saja kami bertabrakan karena “dia” bawa motor terlalu kencang. Tapi lagi-lagi itu semua karena ulah saya yang memaksa “dia” untuk cepat karena saya takut terlambat. Hiks…betapa memalukannya saya.

Sampai di klinik bersalin di daerah Ulak Karang, saya tak melihat tanda-tanda kehidupan disana. Klinik itu masih “mengerikan” karena sisa-sisa gempa kemarin, dan belum direnovasi. Saya-pun menelpon Inenk, salah seorang sahabat saya, dan bertanya dimana ruangannya. Kemudian Inenk pun keluar dan saya menuju ruangan tempat Nene’ bersalin. Ternyata, disana sudah ada Lia dan Bang Ricky (suami Nene’) dan otomatis saya pun say “Hi” dan bilang saya ditemani “dia”, yang saya perkenalkan sebagai teman saya. Dan seperti biasa… GB emang ‘tukang bolok’ mereka bilang “Temen apa temen”. Haiyahhh!!! Bikin malu saya saja… sahabat-sahabat saya memang begitu. Saya jadi makin ga enak sama “dia”. Tapi untung bukan “dia” sendirian cowo, ada Bang Ricky… setelah sedikit ngobrol, para cowo pun berinisiatif keluar. Haha sesuatu banget. Secara kami cewe-cewe mau ngobrol something’s private. Hihihi… intinya, saya senanggg… sekali finally saya jadi ‘aunty’, karena sahabat saya akhirnya melahirkan anak pertamanya. Cihuy!!! Saya bisa gendong dan cium sepuasnya, ayeeeaaah!!! Super happy… kamipun kemudian ngobrol, take pictures and ketawa-ketawa. Haha…agenda rutin GB-lah pokoknya.

Setelah hampir 40 menitan disana, saya pun pamit pada sahabat-sahabat saya dan bilang kalo saya mau pergi makan dulu dengan “dia”. Jadi, kamipun meluncur… saya melewati rute Ulak Karang – Pemuda – Jalan Gereja – Hiligoo – Pasar Raya – Terandam. Hihi udah kaya rute angkot kan? Karena pergi dengan “dia”, saya jadi tau sekarang kalo di ex-Hotel Ambacang sedang dibangun hotel Alana. Saya bahkan dengan noraknya sempat ambil foto hotel itu dari atas motor. Hahaha like usual, apapun momentnya harus ter-capture lewat kamera hape saya… dan setelah itu, saya juga baru tau kalo sekarang rute angkot sudah diubah. Depan mesjid Taqwa, sekarang angkot dan kendaraan lainnya sudah berubah arah. Haaa… saya katrok banget!!! Orang Padang, tapi saya gak tau apa-apa. Hiks… karena udah jadi warga Bukittinggi nih! Huhuhu… saya kan orang Padang… Lanjut, dekat lampu merah Polresta, saya mikirnya mungkin “dia” mau makan tongseng lagi di daerah Ganting, jadi saya menurut saja. Ternyata saya salah, tau gak “dia” mengajak saya kemana? Ke mesjid di Terandam. Saya ingat kalo saya belum Zuhur. Hehe… pria ini… too…perfect-lah!!! Saya sukaaa… hehe, jadi kami sholat dulu disana…

Selesai sholat, motor kemudian meluncur menuju arah mesjid Nurul Iman, tapi gerimis… huks saya benci hujan!!! Hujan bikin matahari saya tidak kelihatan… saya lebih suka cerah jika boleh memilih… tapi “dia” bilang, apapun cuaca yang ada harus dinikmati dan disyukuri. Lagi-lagi saya malu, karena sering sekali mengeluh… kemudian “dia” memutuskan untuk makan di Waroeng Kito. Saya sih setuju-setuju aja. Makan dimana aja juga jadi. Mau di emperan, mau di kafe, mau sambil berdiri sekalipun, asal saya bisa ngobrol dengan tenang, its okay for me. So, jadilah saya dan “dia” duduk di dalam, karena di luar gerimis plus hujan masih setia berharmoni dengan alam. Setelah memesan makanan, kemudian saya cerita dengan “dia” tentang mimpi Mama saya beberapa hari yang lalu. Intinya, mimpi itu ‘agak’ janggal. Dan tentang ‘kemungkinan hilangnya’ seseorang dalam hidup saya. Saya cerita ke “dia” kalo saya belum siap kehilangan Mama, Papa bahkan adik saya untuk saat sekarang. Saya gak kebayang jika hidup saya tanpa mereka. Apalagi kehilangan adik saya. Saya sayang sekali sama adik saya. Terkadang saya iri dengannya yang punya adik banyak… FYI, “dia” punya adik 7 orang, weww… ramenya! Dan itu menurut saya mengasyikkan. Tidak sepi… selalu heboh!

Kemudian sambil makan, cerita berlanjut dengan sedikit flash-back ketika kami di zaman kuliah. Saya tanya, kapan dia tamat, apa ketika wisuda orang tuanya datang menghadiri, dan sebagainya… “dia” bilang “dia” tamat pas 4 tahun dan ketika “dia” wisuda orang tuanya tidak menghadiri. Otomatis saya kaget dong… tapi saya tidak mau merusak suasana, karena sudah waktunya untuk makan. Saya kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih ringan. Tapi saya tetap bertekad, suatu waktu akan menanyakan hal itu kepadanya. Makan kemudian dilanjutkan dengan obrolan tidak serius dan tidak penting, hahaha… penting atau tidak penting tapi menurut saya semuanya manis. Saya dan “dia” bahkan bertingkah selayaknya anak kecil hanya gara-gara saya ingin melihat KTP nya dan kemudian tarik-menarik hape androidnya yang baru. Ckckckc… kalau mahasiswa saya tahu, dosennya bertingkah begini, matilah saya. Hahaha… makanan hampir habis, dan saya pura-pura ngambek ga mau pergi sebelum liat KTP nya. “Dia” pun mengancam akan tidur di sana. Saya mikir sambil ketawa dalam hati. Pria satu ini sungguh nekad. Tapi lagi-lagi, saya tetap suka. Hahaha… saking bodoh dan ributnya kami, pelayan kafe-pun mulai mengambil piring dan gelas kami. Ups, indikasi mulai ada pengusiran nih, pikir saya. Hahaha… kemudian saya dan “dia” memutuskan untuk pergi saja dan menuju Gramedia.

Huaahhh!!! Baru sampe di teras luar Waroeng Kito, dua cecunguk alias sahabat-sahabat saya yang di klinik tadi, Lia dan Inenk muncul. Mati gw!!! Pikir saya. Alamat bakal dibolok’in abis-abisan nih sama mereka. Perasaan saya mulai ga enak. Duh! Andaikan saja saya 10 menit lebih cepat bergerak meninggalkan kafe itu. Huhuhu tapi apa boleh buat. Daripada dikata2in ‘gak setia kawan’ sama sahabat-sahabat saya, terpaksa saya masuk lagi ke dalam dan nemenin mereka pesan makanan. Huhu!! Pasti abis nih, saya dikerjainnnn!!! Dan ternyata benar saja. Mereka berkali-kali tanya, siapa “dia”. Lagi-lagi saya bilang, “dia” teman saya. Dan tau apa kata sahabat-sahabat saya, “teman untuk hidup kan ngge?” hiksss….matilah saya!!! Malunya sampe ke ubun-ubun!!! Hiks, pengen tenggelam… pengen ngebales mereka dengan bolok’in mereka juga. Tapi apa daya, saya yang biasanya kreatif jadi kaya orang bego kemarin. Saya ga punya topic di otak saya untuk bales mereka. Blank se blank-blanknya… huhuhuhu… makin mampus deh saya!!! Belum lagi sahabat saya usil tanya-tanya ke “dia”. Mama tolong sayaaaa!!! Hiks! Gak lagi-lagi deh kejebak dalam situasi seperti kemarin. Ini semua karena saya tidak pernah bawa teman pria saya kehadapan GB, ini kali pertama dan habislah “dia” dibolok’in ama sahabat saya. Hiks… maafkan… untungnya “dia” anteng saja. Apapun kata sahabat saya, dia tidak terpengaruh. Alhamdulillah… sesuatu!!! Secara sahabat saya mulutnya usil, pasti nanti “dia” mengira aneh2. Fuih… sudahlah, this is the first time and last time… Akhirnyaaa!!! Saved by the bells!!! Makanan mereka datang juga, dan saya memutuskan untuk pergi secepatnya dari situ. Bakiroookkk!!! Daripada tambah malu dan (tentu saja ) dipermalukan saya memutuskan untuk pergi. Walau masih gerimis, tapi Gramedia sudah menanti… haha… terselamatkan!!! Yes yes yes!!! Im giving up deh kalo soal sahabat-sahabat saya. Hihi

Sampai di Gramedia, kami parkir dan saya langsung excited menuju bazaar buku! Hoho my paradise! Tapi, karena “dia” mau cari buku tentang manajemen perusahaan, jadi “dia” menuju lantai atas duluan. Yap, saya lupa bilang, “dia” lagi getol-getolnya cari buku tentang itu, karena mau ikut lomba menulis di perusahaannya. Jadilah “dia” menuju lantai atas sementara saya masih dibawah liat-liat buku…hoho! Tapi…ternyata buku yang di display masih yang kemarin. Dan hampir semua sudah saya beli. Wakakaka…daripada saya boring sendirian, saya memutuskan untuk menyusul “dia” ke lantai 3. Clingak-clinguk di lantai 3 akhirnya ketemu juga “dia” lagi cari buku. Saya samperin saja dan kemudian ngobrol ringan. Gak tau kenapa, saya tergelitik untuk menanyakan hal yang sama sewaktu di Waroeng Kito tadi. Tapi, saya tidak langsung menjurus kesitu. Saya tanya dulu, kenapa di daerah asalnya sempat berkecamuk konflik (like Mesuji’s case) dan apa rasanya berasal dari latar belakang keluarga yang plural. Dia memberikan penjelasan yang panjang. Lengkap. Detail. Bahkan sangat detail sehingga sekarang saya bisa memahami sedikit banyak kondisinya. Well, cukup saya dan Tuhan yang tahu apa penjelasan “dia” kemarin. Karena menurut saya itu ‘private’ sifatnya dan saya tidak akan menuliskan disini. Kemudian saya tanya lagi, apa perasaannya ketika orang tuanya tidak menghadiri wisuda s1 nya pada tahun 2007. “Dia” bilang begini: ”dia” memahami kondisi orang tuanya yang berada cukup jauh dari Padang, selain itu “dia” memahami keadaan bahwa bukan hanya “dia” satu-satunya anak yang akan diurus oleh kedua orangtuanya, masih ada 7 orang yang mungkin memerlukan perhatian orangtuanya, dan waktu itu mungkin bukan saat yang tepat bagi kedua orangtuanya untuk menghadiri acara yang sangat berarti itu. Tapi ketika “dia” pulang ke rumah Lebaran kemarin, dia terharu, karena di ruang tamu, hanya fotonya yang dipajang. Ada rasa haru dan bangga disitu. And you know what? He was crying. Hiks… saya apalagi! Ketika mendengar cerita bahwa tidak ada yang mendampinginya saat “dia” wisuda, air mata saya sudah bercucuran layaknya air terjun. Tanpa henti. Saya kemudian menutup nya dengan dompet saya. Kemudian “dia” bilang… begitulah “dia”, begitulah keluarganya, dan itulah “dia” apa adanya, walau bagaimanapun “dia” tetap sayang sama Mamak dan Bapaknya. Dan bangga menjadi anak pertama di keluarga itu. Apalagi ketika akhir-akhir ini Mamaknya sering sakit-sakitan. Hiks… saya makin sedih aja mendengarnya. Huhuhu… Ya Allah, saya mengagumi pria ini, saya menyayangi dia, berilah dia rezeki berlimpah dan karuniakan “dia” hal hal yang baik di dunia ya Allah… begitu gumam saya dalam hati. Kemudian daripada makin malu diliatin orang di lantai 3 kami pun turun ke lantai 2. Dan sekarang giliran saya bertanya masih belum selesai. Pertanyaan menyelidik masih berlanjut dari saya. Hehe… tapi pertanyaan kali ini murni berasal dari saya, saya ingin tahu pemikiran dan pendapatnya tentang seorang wanita yang ingin memperoleh pendidikan tinggi. Let say, master or doctoral. Intinya “dia” bilang: its okay, selagi wanita tersebut masih memahami kodratnya sebagai wanita. Dan selanjutnya, tau apa? Dia balik bertanya kepada saya mengenai hal yang saya hindari. “Dia” langsung bertanya dan tepat menohok hati saya. “Dia” tanya; “pernahkah saya menanyakan hal yang serupa pada M_____?” saya bilang dengan lugas “tidak”. Jujur, dialah orang yang pertama saya tanyakan hal ini. Dialah tempat saya bertukar pikiran tentang banyak hal. Hanya dengan dialah saya berbagi. Tentang banyak hal… di hidup saya. Intinya begitu… saya tak sanggup lagi menuliskan terlalu banyak hal disini. Karena semuanya indah, semuanya berkesan, tapi juga membuat saya haru. Kemudian, saya menunjuk sebuah buku “Habibie dan Ainun”, saya bilang saya ingin baca itu. Dan “dia”pun membelinya. “Dia” pun menuju kasir, dan saya menuju tempat penitipan barang.

Dari gramedia, saya berencana menuju tempat Mama, (waktu itu Mama dan adik saya sudah sampai di permindo) dan kebetulan setelah itu, saya ada kelas malam di daerah Wowo bersama miss vivi. Jadi saya tanggung pulang dan lebih baik menunggu jam 7 bersama Mama dan Lintang. Jadilah dia mengantarkan saya ke permindo. Ketika motornya berhenti, dia memberikan buku “Habibie dan Ainun” untuk saya baca. Dan kamipun berpisah di jalan itu… saya memandangnya dari kejauhan ketika dia berlalu dari hadapan saya. dan saya menguntai satu doa…

“Pria ini sangat baik Ya Allah, jangan biarkan dia sengsara dihidupnya… karuniakan dan berikan dia semua hal-hal yang baik Ya Allah… lapangkan pintu rezekinya, mudahkan segala urusannya… Ya Allah, saya sangat menyayangi pria ini, pria inilah yang mampu membuat saya tidak malu menangis dua kali dihadapannya… Ya Allah, lindungi dia selalu… sekarang, esok, selamanya. “Dulu saya kira ini hanya rasa ‘main-main’ saja. Ternyata bukan. Saya menikmati setiap detik bersamanya. Saya menyayangi segala yang ada di diri “dia”. Dan saya tidak mau “dia” sedih lagi, saya tidak mau melihat “dia” menangis lagi… Kabulkan doa saya Ya Allah… Amin ya Rabbal’alamin…”

Hari kemarin merupakan hari terindah di hidup saya, dan saya tidak akan pernah lupakan itu. Alhamdulillahhirabbilalamin…terimakasih Ya Allah…

Advertisements

4 thoughts on “Awal Februari Yang Indah

  1. leniyumiati February 5, 2012 / 7:37 am

    eheeemm..
    Aku senang membacanyaaa.. ^_^

  2. miss lengga February 5, 2012 / 7:46 am

    huaahhh…langsung ada komennya! x__x
    hihihi

  3. yulea85 February 9, 2012 / 12:13 pm

    Do you believe if i ask to you, that I know the man???? xixixiixixixi

  4. miss lengga February 9, 2012 / 1:34 pm

    haha… im givin up! yes, he is ur neighbor :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s