September (Yang Tidak) Ceria

Assalamualaikum teman2, lama tidak berjumpa di blog ini. Lama saya tidak menulis di blog saya sendiri, sehingga mungkin dia sudah ‘berdebu’ dan sedih ditinggal pemiliknya. Melihat judul postingan kali ini, pasti teman2 mengkaitkan dengan istilah “September Ceria”. Ya, saya yakin tentu semua paham dan fasih dengan istilah “September Ceria”. Memang benar, itu diambil dari penggalan lagu lama di era 90an. Lagu bernada melankolis manis itu dinyanyikan oleh penyanyi lawas Vina Panduwinata (oh well, anak sekarang pasti jarang yang tahu siapa itu Vina Panduwinata).

Balik lagi ke penggalan kata di lagu itu, ternyata…, September ini tidak ceria bagi saya. Sangat tidak ceria dan tidak menggembirakan. Tak usah ditanya mengapa karena akan saya jelaskan nanti semua sesak di dada saya yang membuat mata saya bengkak selama seminggu lebih. Bengkak karena apa? Menangis tentu saja. Hm, bicara soal menangis, sudah lama sekali saya tidak menangis. Mungkin dihitung2, sudah 2 tahun lebih saya tidak menangis tersedu bahkan menangis histeris. Kenapa? Apa saya sok kuat? Entahlah, mungkin Jakarta membuat saya lebih tegar dan jarang menangis. Bagaimana mungkin saya menangis, sementara setiap harinya adalah berjuang? Setiap harinya adalah melawan rasa rindu akan rumah? Hufh, ya begitulah.. in these 2 years, I rarely cried.

Tapi, di suatu siang, tepatnya tanggal 10 September, hari Minggu. Saya akhirnya menangis. Histeris. Tak terbantahkan saya menangis. Menangis karena hati saya tercabik pedih. Luka yang sebenar2 luka. Saya kehilangan seorang Ibu.
Ya, Mama saya meninggal dunia.
Sosok yang paling saya cintai di muka bumi ini.
Sosok yang paling mengerti saya, yang tahu bagaimana perjuangan hidup saya.

Saya mendengar kabar itu melalui telpon dari Papa saya, tanpa saya sempat mengucapkan selamat tinggal pada Mama.
Tanpa saya sempat bilang betapa saya sangat mencintai dan menyayangi Mama melebihi apapun di dunia ini.
Tanpa saya sempat membahagiakan dan mewujudkan impiannya.
Mama pergi dalam diam. Begitu saja.

Dunia saya rasanya hancur. Kebahagiaan saya bagai direnggut dengan paksa. Semua impian yang pernah saya dan Mama bicarakan lenyap sudah. Berganti air mata. IMG-20170308-WA0002

Saya meraung. Saya meraung kesepian, penuh penyesalan. Saya histeris. Saya bagai orang gila. Saya bagai ditancap belati pas di ulu hati, sehingga untuk bernapas pun saya perih. Saya kehilangan Mama. Dan ini adalah kehilangan terbesar saya. Saya kehilangan cahaya hidup saya. Tak hanya itu, selang beberapa menit seingat saya, mulut saya menceracau tidak jelas karena berbagai macam hal menghantui pikiran saya…
“Adik saya bagaimana, karena dia masih sangat muda. Baru 15 tahun. Baru sebentar mengecap kasih sayang seorang Ibu…”
Kemudian saya berpikir lagi, “Papa saya bagaimana?” selama ini Mama lah yang paling mengerti urusan keluarga, mulai dari hal2 domestik (hal sederhana seperti memasak dan membuatkan kopi Papa), sampai hal2 menyangkut dokumen2, hal2 perbankan, pembayaran rekening listrik, telpon, dll. Ya, semuanya Mama yang mengurus. Dengan kata lain, Papa-lah kepala keluarga, tapi Mama yang me-manage semua dengan baik.

Lalu saya, bagaimana dengan saya nanti? Siapa lagi yang akan saya jadikan tempat mengadu? Siapa nanti yang akan tersenyum bahagia ketika saya menikah? Siapa yang akan tertawa bahagia ketika saya melahirkan seorang anak, yang akan ikut cerewet membantu saya mengurus anak saya? Siapa lagi yang akan hadir dalam rajutan mimpi indah saya? Tidak ada.
Padahal itu pernah saya impikan, pernah saya cita2kan.. tapi sekarang.. sirna.

Sepersekian menit setelah diberitahu kabar itu, saya langsung balik ke Padang. Sambil menangis di telpon saya mohon agar Mama saya jangan dikuburkan dahulu. Saya ingin melihat Mama untuk terakhir kali. Saya ingin menciumi Mama bertubi2, saya ingin memeluk Mama, saya ingin menciumi setiap helai rambut Mama yang halus dan wangi. Saya ingin bersimpuh di kaki Mama dan meminta ampun, serta bilang betapa saya sangat menyayanginya. Betapa saya sangat mencintai Mama walau kami terpisah jarak.

Sesampainya saya di Padang, saya kembali histeris. Melihat banyak orang di rumah, saya makin tak percaya bahwa Mama sudah pergi. Mama sudah tidak ada. Saya tak hentinya menangis. Saya bahkan tidak tahu ada saudara, kerabat serta sahabat2 saya datang. Saya kehilangan akal. Saya tidak waras. Yang saya ingat waktu itu. Saya belai2 tangan Mama dan saya menangis sambil menceracau dan meminta Mama bangun.. Tapi tidak mungkin.

*****

Hari hari berganti…

Saya mencoba ikhlas. Tapi sulit.
Apalagi ketika saya melihat semua barang2 Mama, dokumen2 Mama, hape Mama, dimana banyak sekali foto saya… Foto saya di semua negara yang pernah saya kunjungi Mama simpan di hapenya.
Dan saya kembali menangis. Begitu bangganya Mama pada saya.
Begitu sayangnya…

Saya ingat ucapan Mama, “Leng, kalau Mama basobok (bertemu) dengan kawan lama Mama, maka yang ditanya bukan berapa banyak harato (harta), tapi dima (dimana) anak Mama sekarang? Jadi, kesuksesan kita itu diukur dari berhasil atau tidaknya anak kita…”

Bagi Mama, pendidikan dan etika lebih penting daripada harta. Dan justru karena itu Kakak mengagumimu, Ma…

*****

Saya sekarang piatu.
Tanpa kasih sayang seorang Ibu.
Tanpa ada lagi yang menelpon setiap waktu
Untuk mengingatkan dan mendoakan..

Ya Allah, cepat sekali Engkau ambil Mama
Saya belum siap dan mungkin memang tak akan pernah siap..

*****

Saya memang hanya orang biasa, tak berhak mengajari orang lain, tak berhak untuk menasihati orang lain. Tapi percayalah, yang saya sampaikan saat ini tak lain dan tak bukan adalah karena saya ingin berbagi… dan juga sekedar mengingatkan…

Sayangi orang tua kita sebelum semua terlambat. Cintai mereka, bahagiakan mereka. Luangkan waktu lebih dengan mereka. Peluk mereka dan katakan betapa kita sangat menyayangi mereka. Doakan agar mereka panjang umur dan diberikan kesehatan… Sebelum kematian datang dan kita tidak bisa lagi berbuat apa2 untuk membuat mereka bahagia dan bangga…

*****

Ma, betapa Kakak rindu Ma…

Advertisements

6 Weeks Fellowship in US (Fun, Teary and Unforgettable Moment!) #1

Assalamualaikum!

Hi, back with me again! Setelah postingan banyak yang kepending karena sibuk selama di US, now I want to share everything about my life during 6 weeks in United States. Yang pasti semuanya super duper menyenangkan, ada air matanya juga, dan yang pasti tak terlupakan!

So, mari kita mulai dari cerita saya menapakkan kaki pertama kali di United States…

27 April 2017

Setelah mabok udara karena terbang hampir 25 jam dari Jakarta – Narita – Denver – Washington, finally sesampainya di Washington kami sudah dicarterkan bus oleh ICMA menuju Arlington suites! Yep, kami bakal stay di Arlington suites selama orientasi! Yey! Dari Washington Dulles airport menuju Arlington lumayan jauh juga, sekitar 45 menitan. Duh padahal badan udah rasa remuk dan pengen cepat2 sampe hotel dan tidor! Fyi, Arlington suites itu semacam private hotel and residences yang menyediakan kamar mewah beserta isinya yang lengkaaap! Ada kitchennya, ruang tamunya, lengkap dehhh! Saya sih super happy karena ada dapurnya, jadi malem2 kalo laper biar bisa masak indomie hahaha

Sesampainya di Arlington, udah hampir tengah malam, dan karena saya udah capek banget saya langsung menuju kamar di lantai 10. Ternyata sudah ada temen sekamar saya yang sampe duluan. Dia dari Laos dan namanya Maiyer. Kami ga sempet ngobrol panjang karena udah sama2 capek (Maiyer juga baru sampe beberapa jam sebelum saya). Ya udah time to sleepppp… bersiap menghadapi esok hari!

1ST Day of Orientation

Hari pertama saya bangun terlalu pagi, ya karena tubuh masih mencoba menyesuaikan dengan perbedaan waktu 11 jam, maka saya kebangun pagi banget dan langsung kepikiran untuk jogging alias melihat2 sekitar Arlington haha skalian cuci mata juga yesss! Sehabis jogging keliling2 Arlington, saya pun balik ke hotel, ngopi sebentar dan siap2  mengikuti orientasi 🙂

Baru masuk ke ruangan orientasi udah disambut dengan tumpukan file yang berisi ucapan selamat datang di Washington DC, serta penjelasan program fellowship ini. Saya juga bertemu rekan2 dari 9 negara lain di Asia Tenggara. Tapi gak cuma kenalan dengan teman2 yang hebat, kami juga dibekali ilmu dari para speakers2 yang dihadirkan oleh ICMA. Para speakers ngasih paparan tentang how to deal with American culture, how to adapt di lingkungan kerja di Amerika, gimana sistem pemerintahan di sana, dan hal2 lain yang pastinya akan berkaitan dengan fellowship kami selama 6 minggu.

Selain itu ada juga kaya how-to-solve a case related to environmental issue and legislative governance (karena ICMA menghandle dua tema itu). Pokoknya seruuu! 😀

20170427_214537
My file! Greetings from ICMA
Capture
Some of the ICMA fellows
20170428_002752
Salah satu sesi pagi di orientasi hari 1

Selesai sesi pertama, perut keroncongan.. Ngarepnya ada snack macam lapis legit, risoles sama keripik kaya di Indonesia, tapi nihil haha.. Cemilan yang ada cuma bagel and cheese, jadi ya udahlah ya daripada kelaperan

20170428_012947
Bagel and cheese penolong saat laper!

Lanjut sesi ke-2, kami mulai digabung sesuai dengan tema masing2. Dan karena saya ada di tema Environment, jadi harus catch-up dengan teman2 di grup Environment dari 10 negara di Asia Tenggara. Kami juga harus menyiapkan video project yang akan ditampilkan nanti di Professional Fellows Congress ketika fellowship kami sudah selesai. Seru bangettt, diskusi soal tema video yang akan dibuat, kaya apa kami bakal mem-present video nya, de el el.. haha 😀

20170428_051136
Diskusi soal video project
IMG_3336
Environmental Sustainability team from Southeast Asia!

Orientasi berlangsung sampe sore, which is artinya malem kami bebas mau jalan kemana aja, yeaaay! Tapi, malam itu kami gak bisa puas2in keliling Washington DC. Karena kami diajak sama untuk ikutan acara YSEALI – Cultural Vistas Seeds for the Future di headquarternya. Acara itu dihadiri oleh banyak rekanan YSEALI, termasuk Atase Pendidikan Indonesian di Washington DC. Yeaaay keren!

Capture
Dengan Bapak Atase Pendidikan Indonesia di Washington DC
20170428_091314
Hello from Washington DC

Selesai acara pastinya kami semua (Indonesian fellows) cuss jalan2. Ya ke Chinatown, ya ke National Mall, de el el.. And here are the glimpse of pictures of DC

20170428_093448(0)
Jalanan di Chinatown at night
20170428_094959
Chinatown station before taking the train
20170428_102256
Fellows in National Mall 🙂
20170428_111815
Di kereta, mau balik ke hotel

Asli hari pertama di DC, saya pegeeellll banget! Orientasi sampe sore, lanjut acara Seed for the Future dan jalan2 malem. Tapi beneran, hepiiii banget. Feel so amazinggg! Bisa sampe ke DC dan melihat semua kemegahan US melalui negara bagian Washington DC. Berasa mimpi gak? Pasti! Di sisi hati saya terdalam, saya bersyukur banget bahwa Allah kasih kesempatan ini di hidup saya. Gak semua orang bisa ke DC, for free lagi 🙂

Keseruan hari pertama is just the beginning, tunggu keseruan berikutnya yaaa.. Karena on the next day, saya dan teman2 bakalan ke Georgetowwwnnn!!! Yeaaaaayyy 😀

Tunggu postingan selanjutnya ya!

Long Flight to Washington!

Assalamualaikum.

Yuks kita lanjut postingan kemarin!

***

Setelah penantian yang cukup lama menunggu Rabu Subuh, finally teman saya sampai juga di airport. Namanya Mbak Ratna dan dia juga fellows dengan tema yang sama dengan saya, yaitu Environmental Sustainability. Tapi fokusnya beda. Kalau saya lebih ke flood management, dia lebih ke renewable energy. And yes, both of us is the latest group to go. Hahahaa di saat teman2 lain sudah ada yang sampai di United States, kami masih harus mengantri di bandara, membawa koper yang segede gaban, serta membayangkan perjalanan yang sangat lama… Ohya, untuk penerbangan menggunakan ANA Air dan United Airlines, koper saya dibatasi hanya boleh 23 kilo saja. Kenapaaaa??? Karena penerbangan saya bukan cuma di rute ini saja. Saya juga akan pergi ke San Fransisco dan Oregon di minggu kedua. Jadi, untuk penerbangan antar states hanya boleh segitu (23 kilo). So bagi teman2 yang mau memakai penerbangan yang sama dengan saya, please make your things in the luggage very compact!

Selesai proses check-in, saya dan teman saya menuju imigrasi. Di imigrasi ga ada halangan apapun. Karena visa Amerika beserta dokumen lain saya lengkap. Ohyaaa, untuk berangkat ke US saya memakai visa J1. Mau tau apa itu visa J1, bisa klik melalui link ini ya -> https://j1visa.state.gov/

Dan walopun lelah mengurus koper dan backpack segede gaban, saya dan Mbak Ratna sempetin wefie juga dong, cekrek! Hihi…

20170426_033107
Wajah2 happy dan deg2an, siap2 mabok di pesawat

And yep, It’s a long long journeyyy…

Kalimat itulah yang terlintas di benak saya ketika mengetahui bahwa boarding pass di tangan saya menunjukkan rute yang sangat jauh. Ya. Sangat jauh! Saya harus terbang dari Jakarta ke Narita selama 8 jam, kemudian transit, kemudian menempuh penerbangan Narita ke Denver selama 11 jam, kemudian transit (lagi?!) dan dari Denver menuju Washington DC selama lebih kurang 5,5 jam! Owemjiii! Glek, ini perjalanan lewat udara saya yang paling lama… Ke Eropa bahkan ga seekstrim ini. I’ve been to Netherlands and United Kingdom, tapi masing2 perjalanan itu durasinya kurang dari 17 jam. Duuuh, siap2 mabok di pesawat!

Tapi karena tekad sudah sekuat baja, perjalanan ini harus ditaklukkan!!! Bismillahhh! Lets gooo…

20170426_040210
Jakarta – Narita – Denver – Washington DC

Selama di perjalanan Jakarta – Narita, energy saya masih full walaupun tidak tidur semalaman. Karena perjalanan cukup lama, saya memilih untuk membaca buku, dan ketika kepala saya sudah mulai pusing, saya mulai mencoba untuk tidur. Tapi tahu sendiri kan kalau tidur dalam posisi duduk (yah walopun seat pesawat bisa direbahkan sedikit) tidak akan nyenyak.. 1 jam tertidur kemudian saya menonton film yang disediakan di in-flight entertainmentnya. Bosan menonton, kebetulan makanan datang. Uhm, ketika baru masuk pesawat tadi sudah diberikan snack sih tapi saya lupa memfotonya hihi… Dan yeah, kinda disappointing… Ga seenak makanan di GA ya.. secara ini penerbangan milik ANA Air (Jepang punya), jadi I didn’t like it a lot (secara kesukaan saya adalah NASI PADANGGG! Haha). Ada salad, mie dingin ala jepang (yg warnya putih itu), kemudian potongan buah, roti, dan menu utamanya ada nasi dengan grilled chicken teriyaki. Tapi karena gak mau masuk angin, sayapun makan pelan2, dan ujung2nya abis juga 😀

20170426_072633
Meals in ANA Air

Kelar makan, saya lanjut nonton lagi, dan perjalanan masih sekitar 3,5 jam lagi. Huaaah… then I tried to sleep, tapi pas mau tidur lagi, saya sempat melihat ke arah jendela, and I feel amazing, langit di luar cantik banget! Awan2 dan langit seakan menyatu membuat gradasi warna yang sungguh membuat perasaan tenang. Ya ALLAH, indah sekali langit ciptaanMu.. :’)

Kalau udah mandang langit begini, jadi suka malu sama Allah, masih belum total jadi ummatNya yang baik. Masih suka telat sholat, pas Adzan ga langsung wudhu, tapi main hape dulu. Padahal nikmat Allah sebesar ini terhadap saya… Huah, mellow langsung. Terus kalo liat langit jadi inget kenangan2 masa lalu, yang indah, yang bikin sedih, yang bikin terluka… Duh, banyak. But its kinda reflection and I love to see clouds and sky 🙂

20170426_105025
Look at the clouds and sky. Perfect!

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 7,5 jam, akhirnya saya sampai juga di Narita, yeay! Karena waktu lay-over alias transit saya di Narita cum 1,5 jam saya harus buru2 ke gate selanjutnya untuk cuusss menuju Denver. Tapi sebelum itu, pose di depan tulisan “welcome to Japan” menjadi sesuatu yang wajib!

20170426_141046
Welcome to Japan 😉

Setelah sempet foto sebentar, saya dan teman saya bergegas menuju gate selanjutnya. Ya, pesawat menuju Denver sebentar lagi akan boarding. Fuuuih, mari berlariiii!

Setelah ngos2an karena berlari, perasaan sedikit lega karena masih ada waktu 5 menit lagi sebelum gate tutup. Alhamdulillah. Duh! Coba kalo telat sedikit, gawatt… Saran saya, jangan pilih waktu lay over singkat di Narita, karena banyak banget toko2 duty free dan butik2 yang bisa dikunjungi. Pilihlah lay-over atau transit yang lama hahaha… Lahhh? Kenapa saya ga bisa transit lama? Yah karena tiketnya dibelikan pihak US, jadi mungkin mereka paham, 2 perempuan asal Indonesia ga bisa dibiarkan lama2 di bandara Narita, karena bisa kalap haha… 😀

Memasuki pesawat, dan inilah yang sebenarnya! The real journey is about to begin! Dari Narita ke Denver (Colorado) saya harus menempuh perjalanan selama 11 jam. Mabooook!

Dari Narita menuju Denver saya benar2 letih, karena tidak tidur semalaman di Soetta, ditambah lagi karena habis berlari2 mengejar pesawat. Jadi selama perjalanan saya banyak tidur hihi… Film di in-flight entertainment pun gak banyak saya tonton.. Intinya most of my time was sleepinggg… Lumayan biar energy kekumpul lagi 🙂

Narita to Denver was my super crazy trip! Selain karena ga ada transit2, juga karena di pesawat lumayan hectic. Di sekitar saya duduk ada orang Thailand dan orang India yang ngobrol dan sedikit ribut, yahh mungkin karena mereka perginya berkelompok, jadi heboh. Uhm, saya juga kalo pergi bersama rombongan pasti ribut haha. Ya udahlah cus lanjut tidur lagi…

Setelah 11 jam……

Finally, touched down Denver! Alhamdulillah.. Pesawat landingnya lumayan smooth. Walo badan rasanya pegel banget dan pengen rebahan di kasur hihi… Pertama kali yang saya lakukan pas landing adalah ke ngambil bagasi saya. Pasti pada nanya deh, loh kan pesawatnya sama, kenapa harus ambil bagasi? Jadi gini, ketika memasuki wilayah United States, pertama kali landing kita harus mengambil barang2 kita kemudian di cek oleh petugas bandara, kemudian menuju imigrasi. Nah disini ini kerempongan mulai terjadi.

So, ketika ambil bagasi dan kembali melakukan pengecekan lewat mesin scan yang disediakan, koper saya ternyata gak smooth dan harus dibuka oleh petugas. Because of what??? They saw rendang singkong, sambel and indomie in my luggage. Hahaha… Iyaa, jadi begitu ada sesuatu yang aneh2 langsung deh di-kepo-in sama petugasnya. Terpaksalah koper gede saya dibuka, dan dicek satu2. Saya sih anteng aja, prinsip saya, kalo rendang dan indomie nya lolos Alhamdulillah, kalo gak ya.. harus survive 6 minggu tanpa indomie! Hahaha…

Petugas kemudian nanya2, ini apa, trus kemasannya diraba2 sama mereka. Saya bilang aja bahwa itu makanan, ada cassava rendang (untung dia kagak tau apaan hihi) sama instant noodle and chili sauce. Setelah dijelasin selamatlah barang2 saya. Nyaris indomie saya tinggal di Denver hahhaa… Gak relaaa… Itu obat kangen!!! Temen saya lebih parah, kopernya juga dibongkar abis. Jadilah kami berdua rempong ngurusin koper setelah pemeriksaan selesai. Saya sih mikirnya, its a part of my journey and I have to deal with it!

Bagasi aman dan kembali check-in, kamipun menuju imigrasi. Di imigrasi sih aman sentosa karena kebetulan di dalam paspor dan visa saya terdapat form DS 2019, form itu adalah senjata pamungkas yang menyatakan bahwa saya diundang ke US untuk fellowship yang diadakan oleh pemerintah US. Jadi smooth deh segala urusan, Alhamdulillah!

20170427_032419
Welcome to Denver, Colorado 🙂

Dari Denver ke Washington saya akan menempuh penerbangan selama 4,5 – 5 jam. Ya Tuhan masih lama… Haha ya sudahlah ya… Mari semangattt, sebentar lagi sampe Washington DC! 😉

20170427_043902
Washington DC, am coming!

Selama di pesawat menuju Washington, surprisingly pemandangan dari jendela pesawat super indah! Ngeliat yang ijo2 juga trus ada kaya padang pasir gitu (mungkin daerah kering gitu kali ya). Pokoknya its amazing! Saya rasa, Yang Maha Kuasa bukan hanya melukis bumi nusantara dengan indah, namun semua jengkal bumi ini. Saya sungguh gak menyangka akan memandang semua hal2 indah ini di hidup saya 🙂

20170427_063631
Snacking in the plane!
20170427_083357
Washington DC from 5000 feet!

Finally, am touched down Washington! Matahari senja udah menyambut (eh bukan senja juga sih, di Washington udah malem diiinggg!). Secara siangnya di Amerika lebih lama, jadi jam 9 malam matahari baru akan tenggelam hihi.. Kebayang besok puasa kaya gimana cyyyin 😀

20170427_085220

Alhamdulillah Jakarta – Narita – Denver – Washington telah dilalui dengan selamat! Dan selanjutnya bersiap untuk orientasi! Yaayyy, ga sabar untuk berbagi cerita ke teman2 semua tentang orientasi fellowship dan ambience di Washington DC. Tunggu yaaaa ❤